UAD Buka Klinik Psikologi

IMG_20160815_204451

Anggoro Ruliyanto/Jurnal Jogja
Rektor UAD Dr Kasiyarno MHum (berdiri) dan Ketua CCE Dr Hadi Suyono saat peluncuran CCE Fakultas Psikologi UAD, di Jogja, Senin (15/8).
JOGJA – Dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara masih diliputi problematika besar. Banyak persoalan sosial yang kemudian menghantui masyarakat secara individu. Guna memecahkan sekaligus menawarkan solusi persoalan-persoalan yang ada di masyarakat, Fakultas Psikologi UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta kemudian berinisiatif membuka klinik psikologi, CCE (Clinic for Community Empowerment).
“Sebenarnya ini gagasan lama. Melalui pendekatan psikologi, terutama. Maupun pendekatan secara holistik, kami ingin mencoba mampu memecahkan persoalan-persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. Kami mencoba persoalan yang semula berada di bilik-bilik individual bisa dibawa ke ruang lebih luas ke tingkat komunitas atau masyarakat,” ujar Dekan Fakultas Psikologi UAD, Drs Khairil Anam MPsi, di Jogjakarta, Senin (15/8).
Menandai diluncurkannya klinik tersebut, Rektor UAD Dr Kasiyarno MHum mengharapkan, CCE mampu menjadi lembaga yang bereputasi dalam pemberdayaan komunitas, sekaligus menjadi andalan universitas. “Meski menggunakan pendekatan psikologi berbasis komunitas, tapi CCE harus mampu membedah satu persoalan secara holistik, integratif,” pesannya.
Tak mungkin, lanjut Kasiyarno, CCE akan bisa berjalan sendiri. “Jika ingin menjadi lembaga pelayanan yang terkemuka, harus menggandeng pula disipling lain seperti kebudayaan, hukum, bahkan ekonomi. CCE pun jangan hanya mengedepankan aktivitas karena suatu lembaga akan dinilai positif dari keberhasilannya. Harus ada hasil yang riil,” tuturnya.
Ketua CCE, Dr Hadi Suyono bertekad, akan menjadikan lembaga yang dipimpinnya mampu memberdayakan masyarakat melalui pendekatan psikologis secara holistik-integratif pada tingkat komunitas. Pun, menyediakan ‘field laboratory’ dalam rangka mengembangkan dan mengimplementasikan berbagai bidang psikologi yang memberi kontribusi lebih besar dan lebih baik pada perubahan sosial/komunitas.
“Kami juga memiliki misi mengembangkan corporate social responsibility dalam rangka pemberdayaan pada tingkat komunitas. Kami juga siap memberi layanan psikologis berbasis komunitas. Itu semua kami lakukan guna menumbuhkan kualitas hidup masyarakat melalui pemberdayaan pada tingkat komunitas. Selain sebagai implemenhtasi kepakaran yang kami miliki,” papar Hadi kemudian.
Guna mencapai itu semua, Hadi berjanji, CCE akan banyak melakukan riset, pengabdian masyarakat, rekayasa sosial, diskusi publik, short course secara internal maupun eksternal, pelatihan, publikasi ilmiah, layanan psikologi penanganan kasus pada tingkat komunitas, menjalin jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan, maupun melakukan respon cepat tanggap atas satu isu atau persoalan masyarakat tertentu.
Sebagai langkah awal, CCE telah melakukan riset mini, respon cepat tanggap terhadap fenomena ‘Pokemon Go’. Berdasarkan riset mini pada Juli – awal Agustus ini, CCE mendukung kebijakan institusi yang melarang bermain ‘Pokemon Go’, perlu adanya maksimalisasi pemberdayan parenting, menyarankan institusi terkait menciptakan permainan yang menyenangkan dan memiliki muatan edukasi, serta menciptakan ruang publik lebih banyak. (rul)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan