2020, Kampus DIJ Bebas Narkoba

Ketua DPP Artipena Suryo Hapsoro (kiri) memberikan pataka kepada Ketua DPW Artipena DIJ Kasiyarno.

Ketua DPP Artipena Suryo Hapsoro (kiri) memberikan pataka kepada Ketua DPW Artipena DIJ Kasiyarno.

SLEMAN (jurnaljogja.com) – Ancaman narkoba makin menggila. Survei BNN (Badan Narkotika Nasional) terhadap pelajar dan mahasiswa tentang penyalahgunaan narkoba menunjukkan, DIJ berada pada peringkat pertama nasional. Kampus diindikasikan menjadi salah satu tempat paling aman untuk peredaran dan penyalahgunaan narkoba.

“Tak ada jalan lain. Kampus harus imun terhadap narkoba. Pada 2020 kampus di DIJ harus bebas narkoba,” harap Ketua DPP Artipena (Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Relawan Perguruan Tinggi Anti Penyalahgunaan Narkoba), Prof Ir Sryo Hapsoro PhD, saat melantik DPW Artipena DIJ periode 2018-2019, di hotel Lafayette, Sleman, DIJ, Kamis (9/11).

Artipena, lanjut Hapsoro, dibentuk berdasarkan keprihatinan tingginya peredaran dan penyalahgunaan narkoba di perguruan tinggi. “Tapi kiprah Artipena nantinya tetap dalam bingkai tridharma, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” katanya seraya mengemukakan, DIJ sejauh ini merupakan pengurus wilayah ke-9 yang dilantik.

Untuk menurunkan bahkan meniadakan peredaran dan penyalahgunaan narkoba, imbuh Hapsoro, harus bisa memotong supply dan demand-nya. “Jangan sampai bonus demografi pada Tahun Emas Indonesia mendatang justru menjadi disaster demografi karena delapan puluh persen pengguna narkoba saat ini, anak-anak muda,” ujarnya sambil mengungkapkan, di Indonesia sekarang ini 57 nyawa melayang sia-sia setiap harinya akibat narkoba.

Ketua DPW Artipena DIJ, Dr Kasiyarno MHum menyatakan, narkoba menjadi ancaman bangsa yang sangat serius sekarang ini. Dengan sasaran utama anak-anak muda, kaum pelajar dan mahasiswa. “Tak mungkin kita bekerja sendiri-sendiri tanpa kerjasama dengan pihak lain menghadapi jaringan narkoba yang begitu rapi. Karena itu Artipena akan bekerjasama dengan panti sosial, panti rehabilitasi, kepolisian, BNNP, maupun pihak lain terkait,” tandasnya.

Nantinya DPW Artipena DIJ juga akan membentuk satgas-satgas di setiap kampus guna mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Saat ini telah tergabung dalam kepengurusan Artipena DIJ sekitar 30-an perguruan tinggi. Nantinya diharapkan seluruh perguruan tinggi di DIJ turut berpartisipasi. “Kami akan bergerak lebih ke arah persuasif, pendidikan, penyuluhan, maupun kegiatan pencegahan lainnya,” tutur Kasiyarno yang juga rektor UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta itu.

Dalam sambutan yang dibacakan Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat, bambang Wiryanto, Kepala BNNP DIJ Brigjen Pol Tri Warno Atmojo mengemukakan, Artipena merupakan ujud kepedulian nyata dan komitmen kampus untuk ikut menanggulangi bahaya narkoba. “BNN tak akan mampu bergerak sendirian,” tandasnya.

Saat ini tercatat ada 60.182 jiwa penduduk Indonesia terpapar nakoba. Prevalensinya 2,27 persen dari total penduduk Indonesia rentan terhadap ancaman narkoba. DIJ berada pada peringkat ke-8 secara nasional dalam hal penyalahgunaan narkoba. Survei pada 2016 khusus bagi pelajar dan mahasiswa, DIJ berada pada peringkat pertama.

Assekwilda bidang Pemerintahan dan Kesra, Sulistyo, membacakan sambutan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menyatakan, peringkat terkait narkoba itu merupakan tantangan bagi kita semua. “Narkoba telah merambah ke mana-mana. Ke seluruh lapisan masyarakat. Tak pandang status, jenis kelamin, maupun usia dengan modus yang selalu baru untuk mengelabui petugas,” tutur HB X lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan