25 Tahun Prodi PSPSR SPs UGM

JOGJA (jurnaljogja) – Sejak dibuka pada 1991 sebagai program studi pascasarjana kajian seni pertama di Indonesia, Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (PSPSR) Sekolah Pascasarjana UGM, Jogjakarta hingga kini telah meluluskan lebih dari 500 alumni jenjang S2 maupun S3.
    Bahkan, kata Kaprodi PSPSR SPs UGM, saat ini program studi yang dikelolanya mulai membatasi jumlah mahasiswa. “Untuk tingkat S2, maksimal 30 mahasiswa per-penerimaan mahasiswa. Sedangkan untuk S3 hanya 6-10 orang. Sehingga ‘student body’ PSPSR UGM untuk dua angkatan lebih kurang 100  mahasiswa S2 dan 40 orang mahasiswa S3,”  sebut Dr GR Lono Lastoro Simatupang di kampus setempat, Jumat (13/5).
     Menurut dia, seperempat abad  PSPSR UGM telah memperluas cakupan pengabdian. Tidak lagi sebatas lingkup seni pertunjukan, PSPSR berkembang menjadi lingkup kajian seni pertunjukan seni rupa. Penjaringan mahasiswa  tidak lagi sebatas pemegang gelar Sarjana Seni (SSn), namun juga terbuka bagi semua lulusan S1. “Perspektif kajian yang disemai program studi inipun telah mengalami perubahan dan menjadi semakin beragam,” katanya.
Pengabdian selama 25 tahun telah banyak menghasilkan alumnus yang mengabdikan diri untuk pengembangan seni di Indonesia, baik sebagai dosen di perguruan tinggi seni, perguruan tinggi pendidikan dan perguruan tinggi umum. Di luar itu, tidak sedikit yang mengabdikan diri sebagai praktisi seni dan penggerak organisasi seni.
Karena itu, program studi ini secara langsung ataupun tidak telah  mendorong dan memberi pengaruh bagi tumbuhkembang program studi seni di Indonesia, khususnya pada jenjang pascasarjana. Bahkan, kelima Institut Seni Indonesia, kini mengikuti jejak UGM dengan menyelenggarakan program studi S2 bidang seni, dan tiga diantaranya mengelola pendidikan seni jenjang S3.
Diakui masih adanya persoalan yang menimbulkan kegelisahan terkait dengan pendidikan seni di Indonesia. Bukan untuk menyeragamkan, tetapi harus diakui pendidikan seni belum tertata baik. Karena itu, UGM menjadi satu-satunya universitas di Indonesia yang menyelenggarakan program studi ini untuk tingkat magister dan doktoral.
     Menurutnya, pembicaraan terkait satu persoalan masuk ranah akademis atau ranah vokasional, masih menjadi perdebatan tak kunjung selesai di perguruan tinggi seni saat ini.Perdebatan itu hanya menjadi salah satu contoh persoalan yang masih menggelisahkan di pendidikan seni negeri ini. “Itu pula yang menjadi salah satu alasan Prodi PSPSR UGM kemudian menggelar peringatan dies natalis ke-25, yang puncaknya dilaksanakan pada Sabtu (14/5) malam.
    Sejumlah alumni PSPSR SPs UGM saat ini menjabat sebagai rektor di institut seni, dan para alumni lain pun sangat antusias untuk kembali saling bertemu dan mendiskusikan persoalan-persoalan di pendidikan seni ini. Itu pula yang kemudian diakui turut mendorong digelarnya peringatan dies natalis ini, meski hanya setingkat prodi.
   Alasan lain, diselenggarakannya pesta perak ini karena ‘exposure’ tentang Prodi PSPSR diakui memang masih sangat rendah, terutama di kalangan masyarakat umum. Sedangkan untuk   lingkup pendidikan seni, tidak masalah. Buktinya, tidak sedikit di antara mereka yang kemudian menempuh studi di Prodi PSPSR ini.
   Rangkaian kegiatan dies ini selain orasi ilmiah ‘Masa Lalu, Tantangan, dan Harapan Prodi PSPSR SPs UGM’, malamnya digelar resepsi dies ‘Tribute Prof Dr RM Soedarsono di pendopo SMKN 1 Kasihan Bantul. Prof Soedarsono disebutnya sebagai salah satu pendiri PSPSR SPs UGM dan pernah ditugasi menjabat sebagai Rektor ISI Jogjakarta. (bam)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan