50 Persen Kebutuhan Tembakau Masih Impor

JOGJA (jurnaljogja) – Meski  Indonesia menjadi salah satu penghasil tembakau terbesar di dunia, dengan kontribusi pendapatan negara mencapai di atas Rp 150 triliun,  namun ironisnya hampir 50 persen kebutuhan tembakau untuk pabrik rokok  dalam negeri masih impor.
“Meski menjadi penghasil tembakau terbesar,  namun kita masih impor,”kata Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo di Yogyakarta, kemarin.
     Ia menjelaskan kenapa Indonesia masih impor tembakau. Ini  karena dalam meramu rokok tidak hanya satu jenis tembaku, melainkan campuran dari beberapa tembakau  untuk mendapatkan aroma yang lebih nikmat. “Sebatang rokok  di dalamnya ada campuran minimal tiga jenis tembakau, dan salah satu atau duanya tidak ditanam di Indonesia,” jelasnya.
Lebih jauh,  Budidoyo, warga asal penghasil tembakau di Temanggung, Jawa Tengah ini menyampaikan,  nilai impor tembakau  jauh dibandingkan ekspor. Ini karena yang didatangkan berupa bahan baku,  sedangkan ekspor tembakau sudah menjadi barang jadi. Ditunjuk contoh, perusahaan rokok di Batam, yang  ekspornya hampir ke semua negara di kawasan Indochina, nilainya mencapai triliuanan rupiah.
Ia prihatian,  perusahaan rokok yang mampu menghasilkan devisa sangat besar dan mampu menyerap tenaga kerja jutaan orang. Namun demikian  perlakuan pemerintah terhadap  sektor tembakau  masih seperti dianak-tirikan. Bahkan,  keberadaan rokok sepertinya akan dihilangkan di Indonesia. Ini terkait dengan banyaknya  Perda  Kawasan Tanpa Asap Rokok (KTAR)  oleh pemda provinsi, pemkab atau pemkot,  yang dikhawatirkan akan mematikan petani tembakau. (bam)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan