Rendah Prestasi Matematika dan Sains Siswa Indonesia

matematika
JOGJA – Isu-isu tentang pengembangan Matematika dan Ilmu Pengetahuan di Indonesia telah lama menjadi penting terutama karena peringkat rendah prestasi Matematika dan Sains siswa Indonesia dalam Program untuk Penilaian Siswa Internasional.

“Komitmen yang kuat untuk meningkatkan kualitas penelitian dalam pengajaran matematika pun harus didorong,” ujar Rektor UNY, Prof Dr Sutrisna Wibawa, saat membuka ICRIEMS (International Conference on Research, Implementation, and Education of Mathematics and Science) ke-6, di Eastparc Hotel, Jogjakarta, Jumat (12/7).

Karenanya, ICRIEMS yang akan digelar hingga Sabtu (13/7) itu sangat diharapkan dan dihargai. Para peneliti dan praktisi Pendidikan Matematika, Ilmu Pengetahuan, serta Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan diharapkan dapat berbagi dan mendiskusikan gagasan dan temuan penelitian untuk meningkatkan praktik dan inovasi dalam Pendidikan Matematika dan Sains.

“Peningkatan seperti itu diharapkan akan meningkatkan pembelajaran dan prestasi siswa juga,” tutur Sutrisna seraya menegaskan, UNY sebagai salah satu lembaga yang menyiapkan guru dan peneliti matematika memiliki komitmen dan tekad kuat untuk mempromosikan penelitian dan publikasi guna membantu meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika dan Sains, maupun kualitas pendidikan pada umumnya.

Konferensi yang diselenggarakan Fakultas MIPA UNY, bertajuk Integrating Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM) and Education for Disaster Risk Reduction and Mitigation itu menghadirkan pembicara dari berbagai negara.

Pembicara kunci, Prof Dr Gultekin Cakmakci dari Hacettepe University, Turkey, Prof Dr Wing Mui Winnie So (Graduate School, The Education University of Hong Kong, Hong Kong), Martianus Frederic Ezerman PhD (Nanyang Technological University, Singapore), Prof Dwikorita Karnawati PhD (BMKG, Indonesia), serta Dr Insih Wilujeng (FMIPA UNY). Invited speaker, Dr Hanik Humaida (PVMBG, Indonesia) dan Dr Azlan Kamari (Universitas Pendidikan Sultan Idris, Malaysia).

Cakmaci antara lain mengemukakan, STEM merupakan kekuatan utama dalam kehidupan sehari-hari dan kita tidak dapat mengisolasi diri dari mereka. “Tidak mungkin dan tidak terhindarkan bagi kita semua untuk tidak tahu tentang tantangan kompleks bagi kemanusiaan seperti perubahan iklim, kesehatan manusia, hilangnya keanekaragaman hayati, polusi, pengurangan kemiskinan, hingga mitigasi bencana.” (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan