Abalito Listrik Bermedia Sampah

 IMG_20170615_203929
Muhson dan kawan-kawan.
JOGJA – Sampah menjadi permasalahan utama di berbagai daerah selama bertahun-tahun yang sampai sekarang belum ditemukan solusi terbaik untuk mengatasinya. Jumlah sampah dari masyarakat maupun industri, terdiri dari sampah organik, non organik, dan campuran selalu meningkat. Sudah ada upaya dari berbagai pihak untuk memanfaatkan sampah sebagai sumberdaya yang memiliki nilai ekonomi, misalnya untuk kompos, energi, bahan bangunan, maupun bahan industri, tapi semuanya belum maksimal.
Karena itu mahasiswa UNY, Muhson Isroni prodi Biologi dan Putri Hanan Riyanta prodi Fisika FMIPA, Baskoro Waskitho Husodo prodi Pendidikan Teknik Mekatronika dan Frida Hasana prodi Pendidikan Teknik Elektro FT, serta Refiena Nurluthfyani prodi Pendidikan Luar Sekolah FIP, berupaya menanggulangi permasalahan itu dengan memanfaatkan sampah untuk dijadikan energi listrik melalui perangkat yang mereka sebut Abalito (Alat Backup Listrik Otomatis).
Abalito, jelas Muhson, merupakan alat back up listrik dengan pengalihan arus listrik otomatis memanfaatkan konversi energi kalor dari suatu sistem peltier guna membangkitkan listrik. “Energi kalor ini didapatkan dari pembakaran sampah. Dengam demikian, alat ini diharapkan dapat menjadi inovasi bagi upaya menanggulangi permasalahan sampah di Indonesia.”
Berbentuk kotak, timpal Baskoro, Abalito memiliki tiga bagian utama. Masing-masing di depan sebagai tempat pembakaran sampah. Bagian kedua tempat komponen pendukung. Bagian ketiga ujung cerobong, tempat sampah basah yang akan dikeringkan dengan uap panas dari pembakaran sampah. “Di ujung cerobong juga terdapat filter uap pembakaran, terdiri dari zeolit dan arang aktif.”
Bagian atas Abalito akan tampak lubang-lubang keluaran udara dari fan yang berfungsi mendukung bagian cold side pada peltier. Sedangkan bagian bawah terdapat empat roda yang akan membantu menggerakkan Abalito berpindah tempat. Di sisi bagian belakang terdapat saklar, voltmeter analog untuk mengukur tegangan 220 v dan voltmeter digital.
Cara kerjanya, sampah yang dibakar menghasilkan asap panas dan akan mengenai peltier yang berada tepat di atas tempat pembakaran sampah. “Peltier digunakan untuk menghasilkan listrik dengan memanfaatkan beda panas antara dua sisi peltier,” ujar Refiena.
Peltier dihubungkan secara pararel dengan peltier lainnya sehingga menghasilkan arus yang lebih besar. Arus listrik yang besar tersebut dinaikkan dengan trafo step up yang dimanfaatkan untuk mengisi daya listrik pada accu 35 Ampere.
Ketika arus litrik dari PLN terhenti, relay LY4 secara otomatis mengalihkan arus ke alat sehingga arus listrik DC 12 Volt dari accu masuk ke inverter dan menghasilkan tegangan listrik 220 volt AC yang dimanfaatkan untuk memback up beban listrik yang dipakai masyarakat.
“Asap panas dari proses pembakaran sampah difiltrasi dengan zeolit dan karbon aktif akan menghasilkan asap panas ramah lingkungan. Yang kemudian asap panas tersebut dimanfaatkan untuk mengeringkan sampah yang masih basah,” papar Refiena.
Pembuatan Abalito dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, membentuk plat menjadi bentuk kerangka alat, kemudian membentuk cerobong berbentuk ‘U’ agar didapatkan tekanan asap yang mengenai peltier tinggi, sehingga tegangan yang dihasilkan maksimal.
Selanjutnya, menyambung accu ke inverter dan disambungkan ke port stop kontak beban. “Kemudian menyambung peltier dengan cara pararel, disambungkan lagi ke trafo step up dan travo ini disambungkan ke accu. Setelah itu fan disambungkan dengan alumunium pendingin ke accu, menempel peltier ke badan cerobong asap serta membuat filtrasi zeolit dan karbon aktif di pintu keluar cerobong asap,” tutur Frida.
Hasil dari pembuatan alat ini, dalam pengujian pertama dianalisa jumlah tegangan yang dihasilkan. Setelah diketahui tegangan yang didapatkan dari proses pembakaran, kemudian memvariasikan waktu yang dibutuhkan dan berat sampah yang dibakar. Selanjutnya tegangan akan disimpan di accu. “Pada saat terjadi pemadaman listrik, secara otomatis alat tersebut akan bekerja,” tandas Frida. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan