Ada Dugaan Plagiarisme Membudaya

 IMG_20170914_185403
JOGJA – Seorang guru besar asal UGM menduga plagiarisme telah menjadi budaya di perguruan tinggi. Karenanya, plagiarisme menjadi masalah nasional yang serius di dunia pendidikan kita. Perlu tindakan serius dan tegas untuk menghapusnya agar marwah perguruan tinggi sebagai lembaga ilmiah terus terjaga.
“Selama saya mengajar mahasiswa S1, S2, maupun S3 di sejumlah program studi, praktik plagiarisme saya temukan sendiri pada karya tulis mereka,” ungkap dosen Pascasarjana UGM, Prof Dr Muhadjir M Darwin MPA, saat menyampaikan orasi ilmiah ‘Etika dalam Pendidikan dan Pembangunan yang Berkelanjutan’, di Sekolah Pascasarjana UGM, beberapa waktu lalu.
Muhadjir mengaku pernah menyelenggarakan pelatihan bagi mahasiswa tentang cara penulisan tesis dan disertasi yang benar, serta menekankan pada pencegahan praktik plagiarisme. Harapannya, setelah itu tak ada lagi karya tulis yang mengandung unsur plagiarisme.
“Ternyata kita masih menemukan sebagian dari mereka yang telah mengikuti training masih juga mlakukan praktik plagiarisme di karya tulis yang di serahkan ke kami,” papar salah seorang pengajar di prodi Studi Kebijakan, Pascasarjana UGM itu.
Untuk merombak plagiarisme tidak cukup dengan pendekatan parsial atau insidental. Harus secara sistemik dimulai dari atas dan dilaksanakan secara konsisten sampai ke bawah. “Universitas perlu membuat peraturan yang jelas dan tegas, ketentuan sanksi keras terhadap pelanggarnya, serta tegas juga dalam prosedur penegakan hukumnya,” saran Muhadjir.
Kebijakan anti-plagiarisme dapat dimulai dengan tindakan preventif, seperti sosialisasi terhadap kebijakan anti-plagiarisme oleh universitas, adopsi teknologi, yakni perangkat lunak anti-plagiarisme yang tersedia di pasar, atau perangkat lunak yang dapat diakses gratis di internet.
Manajemen universitas harus proaktif melakukan monitoring terhadap pelaksanaan peraturan. “Intinya, universitas dan semua fakultas dan departemen serta program studi di bawahnya harus menerapkan peraturan anti-plagiarisme secara holistik, konsisten, tegas, tidak pandang bulu, dan berkesinambungan,” tandas Muhadjir.
Hanya dengan begitu, menurutnya, kultur plagiarisme dapat benar-benar terhapus dan UGM dapat kembali menemukan jatidirinya sebagai universitas besar yang berprestasi dan bermanfaat. “Universitas atau perguruan tinggi merupakan lembaga ilmiah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan obyektivitas,” kata Muhadjir.
Etika dan moral perguruan tinggi yang terjaga akan menjadi fondasi bagi tegaknya moral masyarakat. “Jika perguruan tinggi, sebagai benteng terakhir penegakan moral sudah hancur, akan hancur pula moral masyarakat, moral negara,” tandas Muhadjir. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan