Ada Kampung UAD Di Banjarnegara

Beasiswa: (dari kiri) Kepala Desa Pucang Siti Yanuariyah, Wakil Bupati Banjarnegara H Samsudin, Rektor UAD Kasiyarno, Wakil Rektor II Safar Nashir, Wakil Rektor III abdul Fadlil, Wakil Rektor I Muklas saat penyerahan beasiswa bagi warga desa Pucang, Bawang, Banjarnegara, Jawa Tengah, di desa setempat, Rabu (2/5).

Beasiswa: (dari kiri) Kepala Desa Pucang Siti Yanuariyah, Wakil Bupati Banjarnegara H Samsudin, Rektor UAD Kasiyarno, Wakil Rektor II Safar Nashir, Wakil Rektor III abdul Fadlil, Wakil Rektor I Muklas saat penyerahan beasiswa bagi warga desa Pucang, Bawang, Banjarnegara, Jawa Tengah, di desa setempat, Rabu (2/5).

BANJARNEGARA – Ternyata keberadaan dan reputasi UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta sangat melekat di benak warga desa Pucang, Bawang, Banjarnegara, Jawa Tengah. Bagaimana tidak. Setidaknya ada 20 KK (kepala keluarga) warga desa setempat yang semuanya menempuh kuliah di UAD. Lebih menarik lagi ada 23 orang dalam satu keluarga, terdiri dari anak, cucu, menantu, yang semuanya menuntut ilmu di UAD, sejak UAD masih bernama IKIP Muhammadiyah.

Kenyataan itulah yang kemudian mendorong UAD menamai desa Pucang sebagai Kampung UAD, sekaligus memberikan penghargaan ‘UAD Award’ bagi warga setempat atas kesetiaan mereka terhadap salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah itu. Selain membagikan paket sembako kepada 30 warga Pucang, UAD juga memberikan kenang-kenangan berupa tea set kepada warga yang telah menempuh kuliah di UAD.

“Kami juga memberi kesempatan bagi warga Pucang yang kurang beruntung secara ekonomi untuk kuliah ke UAD. Kami menyediakan beasiswa senilai satu miliar rupiah. Silakan, asal bukan ke Farmasi atau Kedokteran. Kalau ke kedua fakultas itu, nanti hanya sedikit mahasiswa yang bisa tertampung. Kami ingin beasiswa tersebut setidaknya bisa untuk sepuluh hingga dua puluh orang,” ujar Rektor UAD, Dr H Kasiyarno MHum.

Tak sekadar basa-basi manakala UAD memberikan penghargaan itu. Terbukti kedatangan rektor UAD ke desa Pucang, Rabu (2/5), itu juga didampingi oleh seluruh wakil rektor, beberapa dekan, kepala kantor, serta staf universitas lainnya. “Kecuali wakil rektor IV yang kebetulan harus menerima tamu dari Australia pada saat yang sama ini,” kata Kasiyarno.

Wakil Bupati Banjarnegara, H Samsudin yang menyempatkan diri untuk hadir menyatakan, ini merupakan momentum yang sangat baik sekaligus memberi inspirasi bagi warga Pucang maupun Banjarnegara secara keseluruhan mengenai pentingnya pendidikan. “Kami juga sangat mengharapkan kiprah UAD tak berhenti sampai di sini. Banjarnegara merupakan satu dari seluruh kabupaten di Jawa Tengah yang masih membutuhkan banyak peningkatan mutu kehidupan,” katanya.

Sri Listiyanti dan Endah Hartuti yang tercatat merupakan alumni UAD yang pertama kali dari desa Pucang juga menyampaikan kesan yang baik terhadap UAD. “Rata-rata alumni UAD di desa Pucang ini terbilang sukses. Hal itu terlihat dari banyaknya lulusan UAD di desa Pucang yang sudah menunaikan haji dan mendaftar haji,” tutur Listiyanti, yang bersama Endah masuk ke UAD pada 1985 dan lulus pada 1989.

Listiyanti maupun Endah mengemukakan, mereka memilih UAD – atau IKIP Muhammadiyah ketika itu – karena merupakan bagian dari Muhammadiyah yang mengedepankan moral. Pendidikan agamanya juga lebih banyak. “Kuliah di UAD seperti infak atau sodaqoh karena UAD bisa dipercaya dan punya tanggungjawab yang baik dalam mengemban amanah. Pergaulan di UAD juga sehat,” kata kedua orang ibu itu saat dimintai kesan-kesannya terhadap UAD.

Menanggapi harapan wakil bupati, Kasiyarno berjanji akan terus memberikan yang terbaik bagi Banjarnegara. “Selain siap menampung siapa saja warga Banjarnegara yang akan kuliah ke UAD, kami juga akan merancang pengiriman mahasiswa KKN ke kabupaten ini,” tandas rektor seraya mengemukakan, saat ini UAD memiliki 11 fakultas dengan 46 program studi dan merupakan perguruan tinggi swasta di Jogjakarta yang jumlah mahasiswanya paling besar. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan