Aisyiyah: Jadikan Perempuan Agen Perdamaian

Aisyiyah: Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini (kiri) menyampaikan pernyataan sikap terkait terorisme, di kantor ormas setempat, Selasa (15/5).

Aisyiyah: Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini (kiri) menyampaikan pernyataan sikap terkait terorisme, di kantor ormas setempat, Selasa (15/5).

JOGJA – Menyampaikan dukacita mendalam kepada korban beserta keluarganya, Aisyiyah mengecam keras terorisme yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo dan mengharapkan peristiwa mengerikan itu tidak terjadi lagi di tanah air. Pun, mengajak semua pihak agar menjadikan perempuan sebagai agen perdamaian dalam membangun kehidupan bangsa yang pro kedamaian, keadilan, dan tegaknya nilai-nilai kemuliaan.

“Pelibatan anak dalam peristiwa di Surabaya mestinya tak dilakukan. Bahkan di luar nalar kemanusiaan. Sebagai seorang ibu, pelibatan anak itu sangat menyayat hati. Anak yang seharusnya punya masa depan justru dikorbankan. Karenanya, mari kita selamatkan keluarga Indonesia dari terorisme,” ujar Ketua Umum PP Aisyiyah, Dra Siti Noordjannah Djohantini MM MSi, di kantor PP Aisyiyah, Jl KHA Dahlan Jogjakarta, Selasa (15/5).

Anak merupakan titipan Allah. Jauhkan anak-anak dari keadaan dan perbuatan yang merusak kehidupannya, seperti tindakan teror, kekerasan, intimidasi, indoktrinasi, serta segala tindakan yang anarkis dan merugikan kehidupannya. “Melibatkan anak-anak sebagai pelaku teror merupakan perbuatan dosa dan aniaya yang tidak dibenarkan oleh agama dan nilai-nilai luhur kehidupan,” tutur Noordjannah didampingi segenap pengurus PP Aisyiyah.

Aisyiyah pun berpendapat, perempuan Indonesia merupakan kekuatan strategis dalam membangun karakter dan peradaban bangsa. Karenanya, mengajak semua pihak menjadikan perempuan sebagai agen perdamaian. “Peran perempuan dalam mendidik dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan serta keutamaan sangatlah penting. Harus dicegah segala tindakan yang memanfaatkan perempuan untuk tindakan teror dan kekerasan agar tidak merusak tatanan kehidupan milik bersama,” tandasnya.

Manusia sebagai makhluk Allah diciptakan dalam keadaan mulia dan hidup dalam berbangsa-bangsa serta bergolong-golongan untuk saling mengenal. Karenanya, satu sama lain harus saling mencintai, menyayangi, damai, toleran, menghormati, dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. “Membunuh satu nyawa manusia sama dengan membunuh seluruhnya, Sebaliknya, menyelamatkan satu nyawa berarti menyelamatkan seluruh umat manusia,” katanya.

Tindakan terorisme, karena itu, selain bertentangan dengan nilai-nilai agama juga merendahkan, meretakkan, meluruhkan, dan menghancurkan martabat serta kemuliaan manusia. “Aisyiyah mengajak semua elemen bangsa untuk secara terus menerus melakukan edukasi nilai-nilai keutamaan melalui keluarga, masyarakat, dan institusi pendidikan,” ujar Noordjannah kemudian.

Semua pihak agar tetap menjaga ketenangan, kedamaian, persaudaraan, dan ketertiban. Tindakan teroris dan terorisme di Surabaya maupun di mana pun jangan membuat kita sebagai keluarga besar bangsa Indonesia retak, saling curiga, dan bermusuhan. “Selamatkan institusi keluarga, pendidikan, dan lingkungan di negeri ini dari terorisme dan segala bentuk kemungkaran yang merugikan kehidupan umat manusia, termasuk bagi anak-anak,” papar Noordjannah lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan