Ajaran Gereja Hapuskan Sebagian Ritual di Manggarai

IMG_20161224_121014
JOGJA – Melalui disertasi ‘Manggarian Myths, Rituals, and Christianity: Doing Contextual Theology in Eastern Indonesia, dosen Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiskus Borgias, dinyatakan berhak atas gelar Doktor pada pogram studi Inter-Religious Studies, di Sekolah Pascasarjana UGM, Kamis (22/12).
Pria kelahiran Manggarai, 2 Oktober 1962, itu banyak mengupas hal-hal seperti mitos tentang Tuhan Allah, mitos kosmos, dan bagaimana masyarakat Manggarai mulai mengenal makanan. Ternyata, mitos-mitos tersebut berkaitan dengan ritual masyarakat Manggarai.
“Ritual di Manggarai, seperti halnya di Bali, sebenarnya banyak. Namun, semenjak masuknya ajaran Gereja, ritual tersebut tidak banyak lagi. Meski begitu, ritual-ritual besar – seperti ritual Pentik – masih dilaksanakank,” ungkap Borgias.
Ia pun menandaskan, seiring sejarah pergerakan misi dunia, pewartaan iman Kristiani (Katolik) ke Manggarai memberi perubahan dalam hidup masyarakat setempat. “Mereka yang semula dari kehidupan tradisional menuju kehidupan pasca-tradisional karena pengaruh dari kehidupan modern yang dibawa pelbagai macam faktor dari luar,” paparnya.
Borgias juga membahas tentang timbal balik antara Katolisisme dan pikiran orang Manggarai tentang pribadi manusia, ruang, waktu, mitos, dan ritual. Soal pribadi manusia, disoroti dalam lima pokok, meliputi sistem kekerabatan, peristiwa kelahiran, peristiwa perkawinan, peristiwa kematian, dan tentang kedudukan atau status kaum perempuan dalam praksis hidup masyarakat Manggarai.
“Konsep tentang ruang secara lebih rinci dihat dari aspek Rumah (Mbaru Tembong), Kampung (Beo bate lonto), Kebun (Um bate duat), makam (boa), dan Mata Air (wae teku). Konsep atau pengalaman tentang waktu lebih lanjut juga bisa dilihat dari pengalaman orang Manggarai tentang hari, minggu, dan bulan.
“Orang Manggarai memiliki nama-nama bulan sendiri yang tersimpan dalam ingatan kolektif mereka, walaupun sekarang ini sudah tidak lagi mereka pergunakan dalam kehidupan sehari-hari sebab sudah digantikan dengan nama-nama bulan dari sistem kalender modern atau internasional,” tutur Borgias kemudian. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan