Akademisi ASEAN Perkuat Masyarakat Madani

Masyarakat Madani: Rektor UAD, Dr H Kasiyarno MHum, membuka konferensi internasional 'Strengthening Progressive Civil Society among Southeast Asia', di kampus setempat, Senin (19/2).

Masyarakat Madani: Rektor UAD, Dr H Kasiyarno MHum, membuka konferensi internasional ‘Strengthening Progressive Civil Society among Southeast Asia’, di kampus setempat, Selasa (19/2).

JOGJA – Menghadapi berbagai persoalan maupun gejolak di lingkup ASEAN, puluhan akademisi setempat menggelar konferensi, di kampus Universitas Ahmad Dahlan Jogjakarta, Selasa (19/2). Forum diharapkan mampu memperkuat masyarakat madani, terutama di wilayah Asia Tenggara.

“Menghadirkan beberapa narasumber utama dan pembahasan sejumlah karya tulis, kami juga mengharapkan forum mampu mempererat hubungan di lingkup masyarakat Asia Tenggara,” jelas ketua panitia konferensi internasionat Strengthening Progressive Civil Society among Southeast Asia, Dr Hj RA Noer Doddy Irmawati MHum.

Melalui diskusi secara paralel, imbuh Doddy, para peserta terdiri dari akademisi, praktisi, peneliti, hingga mahasiswa itu akan membahas 196 makalah menyangkut penguatan masyarakat madani, dari berbagai sudut pandang. Konferensi, dibuka secara resmi oleh Rektor UAD, Dr H Kasiyarno MHum.

“Para pemakalah akan mempresentasikan tentang penguatan masyarakat madani di lingkup Asia Tenggara berdasarkan aspek agama, hukum, pendidikan, kemasyarakatan, ekonomi, budaya, sains dan teknologi, sosiologi, politik, serta pemerintahan,” tutur Doddy.

Karena baru saja dimulai, belum diketahui resume dari forum tersebut. “Yang jelas, hasil forum tersebut akan kami susun dalam bentuk prosiding yang nantinya akan dipublikasikan ke dalam jurnal ilmiah berindeks Scopus,” papar Doddy kemudian.

Konferensi internasional itu juga menghadirkan Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, serta pembicara utama Prof Mitsuo Nakamura PhD (Japan Foundation), Prof Ikuya Tokoro PhD (Tokyo University of Foreign Studies), Assc Prof Zainal Amin Ayub (Universiti Utara Malaysia), dan Atty Santiago D Ortega Jr (University of Saint Anthony, Philippina).

Pengembangan masyarakat madani di Asia Tenggara, menurut Mu’ti, tidak bisa lepas dari Islam karena mayoritas masyarakat di kawasan itu, terutama di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam pemeluk agama tersebut.

“Tapi Islam di Asia Tenggara itu berbeda, kalau tidak boleh disebut unik. Lebih cair ketimbang Islam yang berkembang di Timur Tengah, meski berasal dari sana. Bahkan di sebagian negara Asia Tenggara, kehidupan Islam mampu berdampingan secara harmonis dengan para pemeluk agama Buddha yang jumlahnya juga tidak sedikit,” tandas Mu’ti. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan