Akses Rokok Ancam Kesehatan Publik

(kiri-kanan) Velandani Prakoso, April Imam Prakoso, Diah Setyawati Dewanti

(kiri-kanan) Velandani Prakoso, April Imam Prakoso, Diah Setyawati Dewanti

JOGJA – Akses yang begitu mudah terhadap rokok menjadi ancaman serius bagi upaya kesehatan publik di Indonesia. Terutama anak-anak yang menjadi generasi emas masa depan bangsa. Sebagai warga negara yang baik, kita wajib aktif berperan dalam menjaga generasi muda negara ini agar tidak terkena dampak rokok dan merdeka dari jeratan rokok untuk menghasilkan bangsa yang cemerlang.

“Mengutip data WHO tahun ini, jumlah kematian akibat penyakit tidak menular seperti kanker, hipertensi, diabetes, dan lain-lain di dunia meningkat hingga empat puluh persen selama lima belas tahun. Kebiasaan merokok, salah satu yang menjadi penyebab utama,” ujar praktisi Kedokteran Keluarga dan Kesehatan Global, MTCC UMY (Muhammadiyah Tobacco Control Center – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), dr April Imam Prabowo DTM&H MFM(Clin), kepada wartawan, di kampus setempat, Selasa (21/8).

Di sisi lain, perokok wanita meningkat secara signifikan. “Bagi wanita dan ibu hamil, hal itu akan meningkatkan risiko pertumbuhan janin yang terhambat sejak di dalam kandungan hingga dua tiga kali lebih tinggi,” imbuh April, didampingi pakar ekonomi UMY mewakili MET (Muhammadiyah Economic Team, Diah Setyawati Dewanti SE MSc PhD, dan Ketua Umum PP IPM (Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah) Velandani Prakoso SIP.

April pun mengemukakan, riset MTCC yang dilakukan pada anak-anak SMP dan SLTA di empat kabupaten/kota se DIY dengan responden 175 orang perokok dan 175 bukan perokok, didapatkan hasil, pada kelompok perokok terjadi penurunan konsentrasi belajar saat menghadapi ujian kenaikan kelas, tiga empat kali dibandingkan kelompok bukan perokok.

Dampak negatif rokok bagi orang lain tidak hanya pada polusi udara dan atau kesehatan, tapi juga pada sisi ekonomi dan sosial. “Pada sisi ekonomi, perilaku merokok pada keluarga miskin membuat hidup keluarga tersebut menjadi rentan. Tingkat produktivitas menjadi rendah karena penyakit yang disebabkan dari dampak merokok,” timpal Diah.

Mengutip satu pendapat, Diah pun menyatakan, orangtua perokok meningkatkan kemungkinan terjadinya kekurangan gizi pada anak karena 22 persen pendapatan seorang ayah dialokasikan pada pembelian rokok. Hal itu dapat mengurangi daya beli keluarga untuk pemenuhan kebutuhan gizi keluarga. “Terlebih, pengeluaran kesehatan dari penyakit dampak merokok membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Keluarga miskin menjadi lebih miskin dan tingkat kematian pada kepala keluarga perokok menjadi lebih tinggi,” tandasnya.

Secara ekonomi mikro, lanjut Diah, disebut ‘lingkaran setan kemiskinan’. Keadaan keluarga menjadi tetap miskin dan menjadi lebih miskin. “Maka, lingkaran setan kemiskinan akibat kecanduan rokok harus dicegah secara masif,” tandasnya lebih jauh.

Tiga narasumber itupun sepakat, untuk menurunkan jumlah perokok pemula dan menghapus ‘jalan tol’ antara produksi dan konsumsi rokok harus ada strategi yang harus dieksekusi dengan dukungan optimal pemerintah. Antara lain, naikkan harga rokok dengan cara naikkan cukai rokok, penegakan KTR (Kawasan Tanpa Rokok) termasuk Kawasan Rumah Bebas Asap Rokok dan Kawasan Bebas Asap Rokok di dalam gedung.

“Strategi lain, larangan penjualan rokok eceran atau batangan, larangan total iklan, promosi, dan sponsor rokok berupa baliho, spanduk maupun media lainnya, serta tutup tampilan area produk rokok di setiap warung, toko atau supermarket sehingga anak-anak tidak terpapar dengan produk rokok,” papar Diah yang diamini oleh April dan Velandani. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan