Aksi Damai, Tak Perlu ke Jakarta

IMG_20160619_142328
JOGJA – Isu nasional tentang rencana aksi damai umat Islam jilid kedua pada 2 Desember mendapat perhatian dari pengasuh pondok pesantren di DIY. Salah satunya adalah Beny Susanto.
Pengasuh Ponpes Sunan Kalijaga yang terletak di Jaranan, Panggungharjo, Sewon, Bantul tersebut berpendapat tidak diperlukan lagi aksi bela Islam jilid dua terkait kasus dugaan penistaan agama dengan tersangka mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu. Apalagi, lanjutnya, jika aksi damai itu sampai menggunakan mobilisasi masa yang lebih besar dan bertumpuk di Jakarta.
“Dalam pikiran sederhana saya, apalagi yang mau dituntut? Sementara proses hukum terhadap Ahok terus berjalan, naik ke tahap penyidikan dengan status tersangka dan dicekal, tidak boleh bepergian keluar negeri,” ujarnya.
Dia juga mengapresiasi langkah Polri yang menetapkan Ahok sebagai tersangka. Penetapan status tersangka itu merupakan bentuk kerja profesional, transparan, dan akuntabel jajaran kepolisian.
”Kami mengarpesiasi kinerja Bareskrim,” tegas lelaki yang akrab disapa Gus Beny tersebut.
Menurutnya, aksi membela Islam selanjutnya adalah mengawal proses hukum tersebut agar berjalan sesuai dengan ketentuan undang-undang dan mekanisme KUHAP. Pengawalan dilakukan hingga di meja pengadilan. Dalam prespektif Islam rahmatan lil ‘alamin ala Aswaja an-nahdliyah, bela Islam yang penting yakni bagaimana seluruh elemen masyarakat dan negara bersinergi untuk merawat kebhinnekaan, menjaga NKRI, mewujudkan kesejahteraan rakyat berdasarkan atas Pancasila. “Tidak perlu aksi bela Islam dengan pengerahan masa di Jakarta, meskipun hal ini legal dan dijamin undang-undang, karena dikhawatirkan adalah adanya kepentingan lain, yang inkonstitusional dan membahayakan persatuan dan NKRI,” terangnya. (yups/sindo)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan