Al-Qur’an Awal Seni Islam

IMG_20160809_232739

Bambang Sugiharto/Jurnal Jogja

Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik)

JOGJA (jurnaljogja.com) – Penulis novel Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik) mengatakan, kehadiran Al-Qur’an menjadi sebuah tuntutan dan panutan bagi umat Islam di  dunia. Al-Qur’an sendiri merupakan mahakarya yang isinya sangat dahsyat, di dalam seluruh kandungannya merupakan seni.
Demikian disampaikan dalam talkshow dari rangkaian Festival Al Qur’an bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah/Aisyiyah (PTM/A) se-Indonesia di Sportorium Universitas Muhammadiyah Jogjakarta,  Selasa (9/8).
Menurut Kang Abik, pada zaman Nabi Muhammad SAW, sastra sudah sangat dijunjung tinggi. Disampaikan pula bagaimana Rasulullah SAW menghargai seniman. Saat Rasulullah SAW mendakwahkan Islam, kafir Quraisy ada yang menerima dan ada pula yang menolak dakwah tersebut. Kaum kafir Quraisy yang menolak dakwah Islam tersebut mengutus sastrawan-sastrawan jahiliyah yang hebat untuk menulis syair-syair yang menghina Islam, Rasulullah dan ajaran Islam. Rasulullah menandingi syair-syair itu dengan syair-syair yang diucapkan oleh penyair hebat dari Islam. “Pada akhirnya para sastrawan jahiliyah mengakui kehebatan penyair muslim,” tuturnya.
Bahkan, sebut Kang Abik,  para ilmuwan muslim yang terkenal, banyak yang dulunya merupakan sastrawan hebat, seperti Imam Syafi’i dan Ibnu Hajar. Ibnu Hajar merupakan penulis syarkh Shohih Bukhori. “Beliau adalah ulama hadits terkenal. Saya kira beliau hanya ulama hadits saja, tapi ternyata juga merupakan seorang sastrawan yang hebat,” katanya.
Dalam talkhsow  juga dijelaskan tentang perbedaan antara adib dan alim. Adib  sebagai sastrawan, sedangkan alim merupakan ilmuwan murni. Seorang adib lebih menang satu langkah dibandingkan seorang alim. “Adib atau sastrawan itu menyampaikan gagasannya dengan gaya bahasa. Sedangkan alim atau ilmuwan murni tidak.” (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan