Amien Didesak Minta Maaf dan Teladani Ahmad Dahlan

Masyhuri

Masyhuri

JOGJA – Setelah melontarkan kritikan, bagi-bagi sertifikat tanah oleh Presiden Jokowi hanya pengibulan, mantan Ketua MPR RI Amien Rais kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial soal partai setan dan partai Allah. Dinilai tidak beretika, Amien pun didesak untuk minta maaf. Sekaligus meneladani KH Ahmad Dahlan, sosok ulama panutan yang rendah hati.

“Prihatin terhadap pernyataan kontroversial tersebut. Sebagai seorang tokoh, Amien Rais perlu belajar dari sikap tawaduk KH Ahmad Dahlan,” ujar tokoh muda NU (Nahdlatul Ulama) DIJ, Masyhuri, di Jogjakarta, Selasa (16/4).

Sebagai pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan memiliki hubungan sangat erat dengan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, ketika sama-sama nyantri di pondok pesantren yang sama. KH Ahmad Dahlan dan para ulama terdahulu selalu bersikap bijak. “Mereka berdakwah dengan cara-cara santun sebagai cerminan dari ajaran Islam yang ramah. Bukan Islam yang gampang marah,” tutur Masyhuri kemudian.

Berdakwah mestinya merangkul bukan memukul apalagi menjelek-jelekkan. Itu sekaligus merupakan representasi kultur Mataram Islam yang identik dengan kultur masyarakat Jogjakarta. “Sebagai sesama saudara yang bareng-bareng hidup di Jogja, saya menyarankan agar Pak Amien Rais kembali ke jatidirinya sebagai masyarakat Jogja yang senantiasa mengedepankan sikap saling asah, asih dan asuh,” ujar Masyhuri.

Apalagi Amien Rais seorang publik figur. Sudah semestinya mengeluarkan pernyataan yang ngayemi dan ngayomi. Bukan sebaliknya melontarkan pernyataan yang bisa memecah belah masyarakat dan bangsa ini. “Budaya Jawa, khususnya Jogjakarta sangat mengedepankan sopan santun, tata krama dan etika. Nilai-nilai itu harus melekat dalam perilaku berpolitik,” kata Masyhuri.

Politisi PDI Perjuangan, Eko Suwanto mengemukakan, bangsa Indonesia terdiri dari 17.000 pulau, lebih dari 1.340 suku bangsa, dan lebih dari 652 bahasa daerah. Juga memiliki keyakinan agama berbeda-beda. Bangsa Indonesia dibangun di atas dasar Pancasila yang menghargai segala perbedaan sehingga seharusnya setiap tokoh masyarakat berusaha berjuang mempererat persaudaraan, memperkuat persatuan nasional, bukannya melakukan tindakan yang memecah belah bangsa.

Pernyataan Amin Rais nyata-nyata bertentangan dengan nilai nilai kejuangan dan keistimewaan DIJ yang berkomitmen mewujudkan bhinneka tunggal ika dan persatuan bangsa Indonesia. “Kita harapkan Amin Rais segera meminta maaf kepada masyarakat, khususnya warga Jogja yang menjunjung tinggi kemuliaan dan kerukunan sesama warga,” kata Eko yang juga Ketua Komisi A DPRD DIJ itu. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan