Anak Bukan Orang Dewasa yang Dikecilkan

Modul: Sejumlah anak usia TK beraksi dan menari di atas panggung memeriahkan peluncuran modul 'Iya Boleh untuk Anak Unggul Indonesia', di Jogjakarta, Sabtu (6/4).

Modul: Sejumlah anak usia TK beraksi dan menari di atas panggung memeriahkan peluncuran modul ‘Iya Boleh untuk Anak Unggul Indonesia’, di Jogjakarta, Sabtu (6/4).

JOGJA – Ada beberapa cara pegasuhan orangtua terhadap anak selama ini yang sebenarnya kurang tepat. Beberapa orangtua bahkan seringkali kurang memahami pentingnya dukungan terhadap eksplorasi dan sosialisasi terhadap si Kecil agar dapat tumbuh berkembang menjadi Anak Unggul Indonesia.

“Paling perlu disadari oleh para orangtua, anak itu bukanlah orang dewasa yang dikecilkan,” tutur psikolog Tri Novita Herdalena SPsi Psikolog CPC, di hadapan sejumlah ibu yang menghadiri peluncuran modul Iya Boleh untuk Anak Unggul Indonesia, prakarsa Dancow Advanced Excelnutri+, di Jogja City Mall, Jogjakarta, Sabtu (6/4).

Jangan menganggap anak-anak sebagai miniatur orang dewasa. Tapi, para orangtua harus mempersiapkan anak-anak sehingga memiliki kecakapan dan karakter yang unggul. “Sangat penting membiarkan anak-anak mengenal pengalaman pertama mereka pada berbagai hal,” ujar Novita.

Menjadi tanggungjawab orangtua mempersiapkan anak dengan berbagai kecakapan yang sesuai dengan perkembangan zaman. “Juga membekali mereka dengan karakter yang kuat, sehingga anak menjadi berani, cerdas, kreatif, peduli, dan berbakat sebagai pemimpin, agar dapat membawa Indonesia semakin maju,” papar Novita kemudian.

Sebelumnya, pakar nutrisi dr Ayu Kusuma Dewi MSi SpGK mengemukakan perlunya anak memperoleh tiga pilar utama guna menopang tumbuhkembangnya. Meliputi nutrisi yang seimbang, stimulasi yang tepat, dan cinta.

Tiga pilar utama, itu sangat penting terutama pada dua tahun kehidupan awal seorang anak. “Harus benar-benar diperhatikan, karena pertumbuhan anak pada dua tahun pertama itu tak bisa diulang kembali,” tutur Ayu.

Hal itu, imbuh Ayu, tak lepas dari berbagai tantangan penyakit yang mungkin bisa menganggu ketika anak bereksplorasi, seperti ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) dan diare. Hasil riset menunjukkan 41,9 persen anak Indonesia masih sering terkena ISPA dan 12,2 persen terkena diare pada usia itu.

Brand Manager Dancow Advanced Excelnutri+, Alvin Wiradarma mengatakan, peluncuran modul Iya Boleh untuk Anak Unggul Indonesia merupakan kelanjutan gerakan 1 Juta Iya Boleh yang diluncurkan Februari 2019.

“Kami megharapkan, modul dapat membantu para orangtua dalam mengasuh si Kecil, memenuhi asupan nutrisinya, memberikan teladan perilaku yang positif, serta semakin sering mengatakan Iya Boleh untuk mendukung eksplorasi dan keingintahuan si Kecil yang akan membuatnya terus belajar dan tumbuh berkembang menjadi Anak Unggul Indonesia,” tandas Alvin. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan