Ancaman Bonus Demografi

 IMG_20170329_174755
 Dirjen PAUD-Dikmas Kemendikbud, Harris Iskandar PhD.
JOGJA – Sejumlah pejabat maupun akademisi memperkirakan Indonesia akan mengalami Bonus Demografi, meningkatnya proporsi penduduk usia produktif, pada 2025-2045. Bisa menjadi peluang dan tantangan jika dikelola efektif. Tapi, bisa juga menjadi ancaman jika tak dibarengi perencanaan besar di bidang pendidikan saat ini guna mengoptimalkan potensi proporsi penduduk tersebut.
“Tanpa pendidikan, penduduk usia produktif itu hanya akan menjadi pengangguran dan itu bahaya saat di usia muda menjadi penganggur. Sekaligus menjadi beban dan ancaman demografi,” ujar Dirjen PAUD-Dikmas Kemendikbud, Harris Iskandar PhD, pada seminar pendidikan keluarga, gagasan PWM (Pimpinan Wilayah Muhammadiyah) DIJ, di kampus Unisa (Universitas Aisyiyah) Jogjakarta, Senin (27/3).
Tantangan bagi semua pendidik untuk memberi bekal pada anak-anak saat ini sehingga nanti ketika tumbuh menjadi warga negara usia produktif telah memiliki modal memadai. “Tanpa bekal modal pendidikan yang baik, mereka hanya akan menjadi beban dan ancaman. Terlebih di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat saat ini,” tandas Harris.
Harus diakui kita sebagai bangsa sekarang ini sedang gagap menghadapi perubahan teknologi informasi yang sangat dahsyat. “Perubahan dahsyat, tentu memerlukan adaptasi yang dahsyat pula. Pendidikan keluarga menjadi sangat penting. Lebih penting dari sebelumnya,” papar Harris kemudian.
Celakanya, imbuh Harris, fakta saat ini menunjukkan orangtua sebagai pendidik pertama dan utama paling tidak siap. “Pendidikan sekolah, keluarga, dan masyarakat pun belum sinergis. Ditambah ancaman eksternal, seperti narkoba, pornografi, radikalisme, hoax, hingga perdagangan manusia, semakin nyata,” katanya.
Karena itulah meski Ditjen PAUD-Dikmas baru efektof berjalan dua tahun belakangan, memiliki ambisi untuk kembali merevitalisasi ajaran Ki Hadjar Dewantara mengenai tri sentra pendidikan. “Sebagai salah satu upaya mengatasi ancaman bonus demografi, akan kami kembalikan, kami rajut kembali sinergitas pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat,” kata Harris.
Hampir senada dengan fakta-fakta yang ditunjukkan Harris, Ketua PWM DIJ Dr Tasman Hamami MA pun mengemukakan, ancaman yang menghadang perkembangan generasi emas saat ini sangat kompleks. Tanpa pengelolaan dan perencanaan yang baik, mereka nantinya hanya akan menjadi ancaman demografi.
“Secara eksternal, generasi kita tengah berhadapan dengan jaringan peredaran narkoba, tantangan kemajuan teknologi informasi yang menyuburkan budaya instan dan ketergantungan terhadap media digital. Termasuk pula semakin suburnya budaya hedonis dan pragmatis yang mengarah pada pola pergaulan bebas,” tutur Tasman lebih jauh.
Kondisi eksternal itu pelan tapi pasti semakin berkorelasi erat dengan mulai rapuhnya institusi informal, keluarga sebagai benteng utama pertahanan moral generasi muda. “Terjadinya peningkatan kesejahteraan keluarga belum tentu menjamin kesejahteraan psikologis dalam keluarga,” tegas Tasman. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan