Angkat Indeks Pendidikan Gunung Kidul

 IMG_20170327_225302
 Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr H Haedar Nashir, membubuhkan tandatangan pada prasasti menandai peresmian penggunaan gedung baru MIM Wonosobo, Gunung Kidul, Minggu (26/3).
GUNUNG KIDUL – Indeks pendidikan atau rerata lama pendidikan anak usia sekolah di Gunung Kidul, DIY hanya mencapai 6,7 dan merupakan indeks terendah se DIJ. Pernah mencapai 7,4 tapi perubahan indikator pengukuran menjadikan indeks tersebut melorot.
“Kami antara lain telah mengeluarkan kebijakan jemput bola, menyediakan kendaraan untuk memudahkan akses anak-anak ke sekolah, untuk meningkatkan indeks tersebut,” ujar Wakil Bupati Gunung Kidul, Dr Immawan Wahyudi, pada peresmian gedung baru MIM (Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah) Wonosobo, di Dusun Melikan, Banjarejo, Tanjungsari, Gunung Kidul, Minggu (26/3).
Immawan mengharapkan, keberadaan MIM yang cukup pelosok, sekitar tiga kilometer sebelum garis pantai selatan Baron, tersebut mampu mengangkat indeks pendidikan di kabupaten yang terletak sekitar 45 kilometer tenggara kota Jogja itu.
Ia juga mengapresiasi UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta yang telah mengeluarkan dana tak kurang dari Rp 3,5 miliar untuk membangun gedung baru MIM tersebut. “Selaku wakil pemerintah kabupaten, saya mengucapkan terimakasih karena MIM ini merupakan satu-satunya tumpuan harapan bagi masyarakat sekitar untuk meniti masa depan,” tutur Immawan.
Rektor UAD, Dr Kasiyarno MHum mengemukakan, pihaknya ikut ‘cawe-cawe’ membangun gedung MIM tersebut untuk memenuhi amanat muswil Muhammadiyah yang ketika itu dilaksanakan di Gunung Kidul. “Begitu mendapat amanat itu, kami langsung menyanggupi karena kami mendengar siswa di sini cerdas-cerdas. Bahkan menduduki peringkat kelima se Gunung Kidul untuk UAS (ujian akhir sekolah – red.) Daerah,” katanya.
Ketika itu sebagian besar bangunan MIM Wonosobo roboh, tinggal menyisakan dua ruang kelas. Akhirnya dengan bantuan UAD, kini berdirilah gedung baru MIM dua lantai di atas tanah seluas 944 m2 yang cukup megah. “Barangkali ini gedung sekolah setingkat SD yang termegah di Gunung Kidul. Bahkan mungkin lebih megah pula dari sebagian kampus UAD,” ucap Kasiyarno setengah berseloroh.
Ketua Umum PP Muhamamdiyah, Dr H Haedar Nashir menegaskan, keberadaan gedung baru MIM Wonosobo itu merupakan bukti UAD tak hanya memikirkan pengembangan pendidikan tinggi, tapi juga pendidikan dasar. “Semoga dari sekolah ini muncul lulusan-lulusan terbaik Muhammadiyah,” katanya.
Wakil Rektor II UAD, Drs Safar Nasir MSi selaku pimpinan proyek memaparkan, dengan total luas bangunan dua lantai 768 m2, MIM Wonosobo kini memiliki enam ruang kelas dengan kapasitas masing-masing 24 siswa, dan masing-masing satu ruang perpustakaan, UKS, ruang kepala sekolah, rung guru, serta mushola dengan kapasitas 40 orang. “Dilengkapi pula dengan infrastruktur lain, seperti toilet, gudang, dan dapur,” ujarnya.
Kepala Sekolah MIM Wonosobo, Heri Mustofa SPd mengatakan, saat ini sekolah yang dipimpinnya memiliki 70 siswa dari klas I hingga klas VI, 10 orang guru, dan satu orang penjaga sekolah. “Kami ingin madrasah ini unggul dalam bdang akademik maupun non akademik,” katanya.
UAD memang tidak melepas begitu saja setelah membangun gedung baru bagi madrasah tersebut. “Selama satu pekan ini kami telah melakukan pelatihan seputar manajemen sekolah, serta menjadikan MIM Wonosobo ini sebagai sekolah laboratorium UAD. Semoga dengan begitu, sekolah ini bisa maju, unggul, dan mandiri,” tandas Kasiyarno. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan