Aplikasi Data Citra Medis Percepat Diagnosis Pasien

Mei Prabowo dan Izzati Muhimmah

Mei Prabowo dan Izzati Muhimmah

SLEMAN – Keterbatasan jumlah radiolog atau dokter radiologi menjadi salah satu penyebab lambannya diagnosis terhadap pasien selama ini. Mahasiswa pascasarjana FTI UII merancang aplikasi pengiriman data citra medis dari radiolog ke dokter perujuk sehingga mampu mempercepat bagi dokter perujuk untuk menentukan diagnosis bagi seorang pasien. Pasien pun akan sangat diuntungkan.

“Selama ini bahkan ada pasien yang harus menunggu selama dua belas jam untuk memperoleh hasil analisa data citra medis karena harus menunggu dokter radiologi lebih dulu,” ungkap mahasiswa Konsentrasi Informatika Medis, Magister Teknik Informatika, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri UII (Universitas Islam Indonesia) Jogjakarta, Mei Prabowo, di kampus PPs FTI UII, Jalan Kaliurang Km 14,5 Sleman, DIJ, Jumat (13/4).

Mei memperoleh data pasien harus menunggu hingga 12 jam itu dari penelitiannya di sebuah rumah sakit di Tegal, Jawa Tengah. “Dokter radiologi di rumah sakit itu hanya ada dua orang. Sehingga kadang pasien harus menunggu dokter itu masuk kerja kembali sehari kemudian. Karena itu waktunya bisa sampai dua belas jam,” paparnya.

Untuk memangkas waktu bagi pasien maupun bagi dokter perujuk untuk bisa segera memberikan diagnosis berdasarkan data citra medis, Mei kemudian merancang sebuah aplikasi yang bisa dioperasikan melalui gawai android sehingga seorang dokter radiologi bisa membaca atau menganalisis data citra medis dari mana saja dan kapan saja untuk kemudian secara real time dikirimkan ke dokter perujuk.

“Selain ke dokter perujuk, hasil analisa data citra medis itu juga bisa dibaca oleh bagian radiologi dan perawat di bagian rawat inap. Dengan menggunakan aplikasi tersebut pengiriman hasil analisa data citra medis bisa dilakukan lebih cepat. Tidak harus menunggu radiolog itu kembali kerja keesokan harinya,” jelas Mei kemudian.

Dosen Magister Teknik Informatika PPs FTI UII, Izzati Muhimmah PhD mengakui, aplikasi serupa sudah pula dikembangkan orang lain. Bahkan rumah sakit lain. “Namun rancangan Mei ini memiliki kelebihan, yakni terintegrasi antara radiolog, dokter perujuk, perawat di ruang rawat inap, dan bagian radiologi di rumah sakit setempat,” ujarnya.

Pengoperasiannya juga sangat mudah. Dokter perujuk bisa langsung menerima hasil analisa data citra rekam medis secara real time sehingga bisa segera menentukan diagnosis bagi pasien. “Aplikasi ini akan lebih terasa manfaatnya pada kasus-kasus kegawat-daruratan yang bisa datang kapan saja. Bahkan tak jarang terjadi di luar jam kerja dokter,” tutur Izzati lebih jauh.

Citra rekam medis di dalam aplikasi itu juga memiliki format *.dcm sehingga citra rekam medis yang diterima dan harus dianalisis dokter radiologi sama persis dengan aslinya. “Artinya citra rekam medis itu tidak harus dikompres. Otomatis, itu akan memperkecil kekeliruan dokter radiologi dalam membaca dan menganalisisnya. Berikutnya, dokter perujuk pun tidak keliru memberikan diagnosis,” tandas Izzati. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan