Apoteker Tak Perlu Kecil Hati Hadapi Dokter

Apoteker: Program studi Profesi Apoteker Universitas Sanata Dharma Jogjakarta mengambil sumpah/janji bagi 93 orang apoteker baru, di kampus setempat, Sabtu (7/4). Tampak dalam gambar para apoteker yang baru saja membacakan sumpah/janji apoteker.

Apoteker: Program studi Profesi Apoteker Universitas Sanata Dharma Jogjakarta mengambil sumpah/janji bagi 93 orang apoteker baru, di kampus setempat, Sabtu (7/4). Tampak dalam gambar para apoteker yang baru saja membacakan sumpah/janji apoteker.

JOGJA – Apoteker memiliki peran besar di dalam menyukseskan program Indonesia Sehat. Apoteker juga harus terus mengembangkan keilmuannya sehingga mampu bersaing ke depannya. Tapi, dalam bekerja, harus benar-benar bertanggungjawab. Semuanya harus dilambari dengan profesionalitas. Tak sembarangan memberikan obat kepada pasien atau masyarakat karena tidak semuanya bisa diatasi dengan pemberian obat.

“Yang lebih penting, sebagai apoteker jangan pernah merasa kecil hati saat menghadapi dokter,” ujar wakil dari Dinas Kesehatan DIJ, Hardia Yulianti, pada pengambilan sumpah/janji apoteker, pada 93 orang apoteker baru, angkatan 34 program studi Profesi Apoteker USD (Universitas Sanata Dharma) Jogjakarta, di kampus setempat, Sabtu (7/4).

Seorang apoteker, pesan Yulianti kemudian, harus mampu mengembangkan diri. Tak sekadar di bidang kefarmasian, tapi harus terus mengembangkan keilmuan sehingga akan mampu bersaing saat berada di birokrasi, komunitas, industri, maupun tempat kerja lain. “Sekali lagi, apoteker jangan pernah kecil hati karena juga memiliki peran besar dalam menyukseskan tiga program besar kesehatan nasional, yakni penurunan stunting, eliminasi tuberculosis, dan peningkatan mutu imunisasi,” paparnya.

Khusus untuk penjaminan mutu imunisasi, seorang apoteker harus memahami benar bagaimana cara mengelola vaksin. “Beda vaksin, beda karakter. Apoteker harus betul-betul memahami itu sehingga bisa menunjukkan profesionalitas sekaligus bertanggungjawab dalam menjalani tugasnya,” tandas Yulianti.

Ia pun menegaskan, apoteker juga harus mengedepankan paradigma sehat. Jangan hanya kuratif dan rehabilitasi saja, tapi preventif dan promosi jauh lebih penting. “Tidak semuanya bisa diselesaikan dengan pemberian obat. Terlebih menyangkut obat antibiotika, jangan sembarangan melepas agar pasien tidak resisten,” kata Yulianti.

Staf Dinas Kesehatan DIJ itu juga menekankan agar apoteker benar-benar profesional dan bertanggungjawab saat menjalankan tugas. “Masih saja ada dan terdengar, seorang apoteker memberikan atau melepas obat tanpa resep dokter. Padahal, menurut aturan, obat itu harus dilengkapi dengan resep dokter,” tutur Yulianti lebih jauh.

Rektor USD, Johanes Eka Priyatma MSc PhD mengemukakan, alumni USD harus benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas. “Agar mampu memberikan pelayanan kesehatan yang baik, semuanya perlu diperjuangkan. Itu mutlak harus dilakukan karena kualitas perguruan tinggi, salah satunya bisa diukur dari kualitas lulusannya,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, diberikan pula penghargaan kepada lima orang apoteker yang semuanya mengantongi IPK (indeks prestasi kumulatif) sempurna, yakni 4. Serta atas keberhasilan mereka meraih nilai tertinggi dalam UKAI (Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia). Mereka berturut-turut, Nadia Okky Luciana dengan UKAI 75,50, Asti Aprilia Putri (75), Edwin Tesalonika (70,50), Veronica Olivia Gita Puspa Dewi (69,50), dan Wina Susana (69,50). (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan