Asmindo Berbenah Menggeliat Kembali

Irsyam Sigit Wibowo

Irsyam Sigit Wibowo

JOGJA – Sempat vakum sekitar 1,5 tahun, Asmindo (Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia) Komda DIY kini mulai berbenah untuk menggeliat kembali. Selain mengembalikan pasar ekspor, akan fokus pula pada pasar domestik yang selama ini kurang dilirik. Kerjasama dengan berbagai pihak pun akan senantiasa dijalin guna mengembalikan kembali kejayaan kiprah Asmindo.

“Potensi pasar lokal atau domestik ternyata cukup menjanjikan. Selama ini, teman-teman anggota kurang meliriknya,” tutur Irsyam Sigit Wibowo di sela pengukuhannya sebagai ketua pengurus caretaker Asmindo Komda DIY, di Jogjakarta, beberapa waktu lalu. Pengurus caretaker memiliki tugas mengantarkan hingga diselenggarakannya Musda Asmindo guna memilih kepengurusan tetap.

Guna mengoptimalkan serapan pasar lokal, Irsyam menjanjikan, Asmindo akan bekerjasama dengan sektor lain. Seperti properti, perhotelan, dan lain-lain. “Bagaimana kemudian hotel, restoran, dan lain-lain itu bisa menjadi semacam showroom atau bahkan menyerap produk para anggota Asmindo,” katanya kemudian.

Pengembangan pasar lokal atau domestik tersebut dirasa penting di tengah pasar ekspor yang lesu dan cenderung mengalami penurunan. “Penurunan ekspor mulai terasa sejak ambruknya perekonomian Amerika Serikat pada 2008 hingga kini. Padahal, Amerika merupakan pasar terbesar kami selama ini,” timpal Wakil Ketua Asmindo DIY, Indro Wardoyo.

Ekspor mebel Indonesia pernah mencapai angka 2,5 miliar dolar AS. Kemudian mengalami penurunan hingga mencapai 1,8 miliar dolar AS dan pada 2017 tinggal 1,6 miliar dolar AS. “Karena Amerika sudah tidak bisa diandalkan, akhirnya kami mengembangkan pasar baru. Terutama ke negara-negara potensial, seperti Afrika Selatan dan negara-negara eks Uni Soviet,” papar Indro.

Sambil menunggu bergairahnya pasar ekspor, lanjut Indro, saatnya Asmindo fokus pada pasar dalam negeri. Hal ini mengingat pula jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 250 juta jiwa. “Sebuah pasar yang cukup potensial dan menjanjikan, meski dibutuhkan kerjasama dengan berbagai pihak guna mengoptimalkannya,” tandasnya.

Asmindo juga mengantisipasi maraknya perdagangan online. Mau tidak mau, Asmindo harus mengikuti pula kemajuan teknologi informasi itu. “Beberapa anggota saat ini sudah memanfaatkan keberadaan e-commerce seperti Tokopedia, Lazada, Ali Baba, dan lain-lain. Ini sekaligus untuk mengantisipasi bahkan membendung masuknya produk-produk impor,” jelas Indro.

Ketua DPP Asmindo, Anggoro Ratmadiputra mengakui, pasar ekspor untuk produk furnitur dan kerajinan saat ini sedang kurang baik. “Bukan saja mengalami stagnasi tapi sudah cenderung terus menurun. Karena itu Asmindo perlu duduk bersama dengan pihak terkait lainnya untuk mengatasinya. Asmindo tidak bisa sendirian,” katanya.

Anggoro pun mengamini jika segenap anggota Asmindo menggarap pasar domestik secara lebih serius, mengingat negara-negara pesaing juga mengeluarkan produk yang sama. Bahkan terkadang lebih bervariasi dan lebih diminati di pasaran. “Ibarat sedang sakit, Asmindo saat ini tidak mampu mengobati diri sendiri. Perlu uluran pihak lain,” tuturnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan