‘Atasi’ Mahasiswa UNY Juara Nasional

 IMG_20170513_081428
 Menristek-dikti M Nasir serahkan penghargaan kepada wakil tim Fisiotomation UNY.
JOGJA – Tim Fisiotomation UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), Singgih Bekti Worsito (Pendidikan Teknik Mekatronika), Hernawan Prabowo dan M Giffari Anta P (Pendidikan Teknik Elektronika), serta Anggun Fitria Agung (Pendidikan Biologi) sukses meraih juara I dalam kompetisi 1st Open Innovation, di gedung Medical Education and Research Institute Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Singgih menjelaskan, pada kompetisi tersebut mereka mempresentasikan inovasi tentang ATASI (Alat Terapi Otot dan Sendi). Alat untuk fisioterapi sejak dini untuk penderita pasca stroke. Fisioterapi berguna untuk menstimulus syaraf, mengembalikan fungsi gerak serta mencegah atrofi sehingga pasien dapat kembali ke aktivitas normal untuk kegiatan sederhana.
“Alat itu merupakan alat bantu fisioterapi untuk mencegah atrofi otot lengan pada penderita stroke. ATASI memiliki GUI atau graphics user interface dan dikendalikan melalui smartphone android. Penggunaannya sangat mudah, dengan pemasangan pada pasien dan konfigurasi dengan android,” ujar Singgih.
Anggun memaparkan, kompetisi diikuti mahasiswa, dosen, dokter, dokter spesialis, praktisi, ahli, hingga pengusaha. Panitia saat final membuka ruang bagi para peserta untuk berkonsultasi dengan para ahli dan pakar mengnai inovasi medis yang dimunculkan. Tim Fisotomation UNY termasuk dalam dua klaster dari 24 klaster yang ada, yaitu klaster Medical Technology dan Neuroscience.
“Hal itu didasarkan pada inovasi yang kami buat berupa alat bantu perawatan untuk pasien pasca stroke. Hari kedua final merupakan materi tentang marketing di mana produk yang nantinya akan kami hasilkan harus mampu diproduksi dan dipasarkan, maka strategi tersebut difasilitasi pihak penyelengggara untuk seluruh peserta,” imbuh Anggun.
Pada grand final 1st Open Innovation itu, delapan peserta mempresentasikan hasil inovasinya kembali dengan pematangan produk yang lebih baik, dari segi inovasi, potensi, peluang video atau penggunaan alat, hingga aspek pasar di hadapan delapan juri yang terdiri dari dokter, praktisi, pengusaha, hingga ahli marketing. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan