Awas, Herbal Pun Miliki Efek

JOGJA – Masyarakat banyak memanfaatkan bahan herbal sebagai pengobatan alternatif. Tidak ada salahnya, tapi perlu hati-hati. Bahan herbal pun ternyata memiliki efek samping. Jika sembrono, bukannya kesembuhan yang diperoleh tapi bisa jadi justru menambah jenis penyakit di dalam tubuh.

“Gunakan bahan herbal yang sudah terbukti aman dan dalam dosis yang wajar,” saran Kepala Departemen Farmakologi dan Farmasi Klinis, Fakultas Farmasi, UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Yogyakarta, Dr dr Akrom MKes, saat berbincang dengan wartawan, di kampus setempat, Selasa (14/6).

Sudah ada buktinya. “Pernah ada obat herbal anti-kanker asal Tiongkok. Setelah beredar dan dimanfaatkan, ternyata menimbulkan efek negatif terhadap ginjal pasien, sehingga obat itu kemudian ditarik dari peredaran. Ada pula obat herbal yang disebut-sebut manjur sebagai anti-nyeri lambung, ternyata justru menimbulkan penyakit jantung pada penggunanya,” ungkap Akrom.

Kepada masyarakat, Akrom mewanti-wanti, sebelum memikirkan dan mengetahui manfaatnya, sebaiknya pertimbangkan dulu faktor aman tidaknya jika bahan herbal dikonsumsi. “Jadi, bila pengetahuan kita minim terhadap suatu bahan herbal, pertimbangkan dulu faktor amannya. Perkara bermanfaat, manjur atau tidak, itu pertimbangan berikutnya,” tegasnya.

Aman, dalam arti terbukti sudah dikonsumsi banyak orang. Perkara, apakah bahan herbal tersebut kemudian ada manfaatnya atau bisa menyembuhkan penyakit, itu urusan berikutnya. “Syukur jika kita mengetahui persis jika bahan herbal tersebut sudah lolos uji pra klinis. Sudah diujicobakan terhadap hewan atau sel dan aman untuk dikonsumsi,” jelas Akrom kemudian.

Tanpa bukti uji klinis yang jelas, manjur tidaknya suatu bahan herbal itu seringkali sangat sugestif. “Celakanya, ketika memanfaatkan satu obat herbal dan merasa sembuh, sering seorang pasien kemudian meninggalkan obat-obatan utama yang telah dikonsumsi sebelumnya. Kalau ternyata rasa sembuh itu hanya sugestif, akibatnya bisa fatal. Risiko kematian justru mengintip,” tutur Akrom.

Karenanya, ketika menemui obat herbal baru, cermati lebih dulu. “Hati-hati. Jangan terbujuk promosi atau iklannya. Jika perlu konsultasikan dengan ahlinya,” saran Akrom, yang saat ini juga menjabat sebagai Kepala PIKO (Pusat Informasi dan Kajian Obat) UAD itu.

Waspadai pula jika menemui obat herbal tapi di dalamnya ada campuran bahan kimianya. “Biasanya, obat herbal semacam itu dikeluarkan oleh produsen abal-abal,” ujar Akrom seraya menjelaskan kategori bahan herbal, berturut-turut dari level terbawah, kategori jamu tradisional, obat herbal terstandar, hingga obat herbal yang sudah masuk kategori fitofarmaka.

Untuk┬ákategori fitofarmaka, artinya obat herbal tersebut sudah melalui uji klinis dan sudah bisa diresepkan terhadap pasien. “Guan mengembangkan sekaligus mengetahui persis khasiatnya, saat ini kami sedang melakukan uji klinis terhadap obat herbal berbahan Bunga Rosela, Tongkat Ali, dan Jinten Hitam,” papar Akrom lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan