Banyak Kerancuan Pikir di Bangsa Ini

IMG_20170906_203011
JOGJA – Ada banyak kekeliruan cara berpikir bangsa ini. Masyarakat mudah termakan informasi hoax. Korupsi seringkali dianggap sebagai hal biasa. Pendidikan pun lebih condong dijadikan sebagai alat pencetak tenaga kerja ketimbang sebagai proses transformasi nilai-nilai.
“Harus diakui masih banyak kerancuan dalam cara berpikir masyarakat. Tradisi ilmiah sebagai suatu proses pun belum melekat. Tradisi ilmiah masih disikapi sebagai produk,” kritik dosen pascasarjana STF (Sekolah Tinggi Filsafat) Driyakarya, Jakarta, Dr Karlina Supelli, di hadapan mahasiswa baru Sekolah Pascasarjana UGM, di kampus setempat, Senin (4/9).
Menyampaikan tentang problem etis di perguruan tinggi, dimensi etis pendidikan, etika pendidikan menyangkut etika hidup akademik dan keutamaan intelektual, hingga manusia sebagai pembelajar sepanjang hayat, Karlina menyebut korupsi menjadi salah satu problem etis di perguruan tinggi.
“Korupsi di perguruan tinggi bisa berupa korupsi pendidikan menyangkut korupsi akademik dan korupsi pelayanan, serta korupsi administratif,” ujar Karlina.
Lemahnya kesadaran terhadap integritas akademik, menurut Karlina, menjadi salah satu penyebab korupsi di perguruan tinggi. “Sayangnya, tidak mudah diberantas. Antara lain karena lemahnya kesadaran bahwa korupsi merusak hidup bersama, suap dianggap biasa, takut atau enggan melapor, dan terjadinya apati sosial.”
Menjawab pertanyaan mahasiswa baru Pascasarjana UGM, Karlina sempat melontarkan keprihatinan ada seorang anggota legislatif yang menyatakan, korupsi banyak terjadi setelah ada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).
“Jadi, upeti dianggap sebagai hal biasa. Sudah terjadi sejak lama. Dianggap sebagai korupsi setelah ada KPK. Lha, ini kan susah. Padahal, bagi saya, korupsi itu merupakan pembusukan hidup bersama yang sangat Luar biasa,” tutur Karlina.
Soal pendidikan, pun Karlina banyak mengkritik. Selama ini pendidikan diperguanakan sebagai alat meningkatkan daya saing. “Sayangnya, seringkali dimaknai sebagai peningkatan daya saing individu. Padahal, semestinya untuk meningkatkan daya saing bangsa. Bukan untuk individu per individu,” tandasnya.
Pendidikan kognisi pun sering disalahartikan. Kemampuan kognitif itu juga penting, sehingga bukan berarti harus dikurangi untuk menumbuhkan kemampuan non kognitif. “Kemampuan kognisi itu penting agar anak bisa berimajinasi guna memahami suatu ilmu pengetahuan. Lha, sekarang ini yang berkembang bukan imajinasi tapi fantasi,” ungkap Karlina.
Begitu pula soal budi pekerti yang selama ini seringkali diterjemahkan semata sebagai pelajaran agama. “Memang harus diakui saat ini tengah terjadi cara berpikir ilmiah, yang rancu dengan cara berpikir yang lain,” papar Karlina lebih jauh. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan