Banyak Perusahaan Abaikan Pengukuran Kinerja

 IMG_20170119_175455
Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
Dr Ir Erlisa Kusrini MP CPIM CSCP
JOGJA – Seiring tuntutan perkembangan jaman, persaingan di dunia bisnis menjadi semakin ketat. Pengukuran kinerja diperlukan agar perusahaan dapat melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap sistem yang telah ada dan berjalan. Setiap perusahaan perlu memperhatikan aspek pemangku kepentingan dalam menilai kinerja perusahaan karena mereka ikut mempengaruhi keadaan perusahaan.
“Pengukuran kinerja itu penting karena akan mencerminkan pengelolaan perusahaan sudah berjalan efektif, atau belum,” ujar Sekretaris Program Pascasarjana FTI UII (Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia) Jogjakarta, Dr Ir Elisa Kusrini MT CPIM CSCP, di kampus setempat, Rabu (18/1).
Melalui pengukuran kinerja, sebuah perusahaan dapat melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap sistem yang telah ada dan berjalan. Dengan begitu akan mudah mengetahui apakah sistem yang dipakai selama ini telah berjalan baik dan sesuai, atau belum.
“Kenyataannya, masih banyak perusahaan yang tidak mengindahkan pengukuran kinerja tersebut. Padahal, ada banyak model pengukuran kinerja yang bisa diadopsi oleh perusahaan. Beberapa model yang terkenal dan biasa digunakan, misalnya ISO dan Balance Scorecard,” ujar Elisa.
Tiap model, imbuhnya, selalu memperhatikan aspek pemangku kepentingan dalam menilai kinerja perusahaan karena aspek tersebut ikut mempengaruhi keadaan perusahaan. Tapi sebenarnya ada metode yang lebih efektif, yakni Performance Prism.
Metode Performance Prism dirumuskan oleh Andy Neely, seorang pakar manajemen asal Inggris, pada sekitar 2002 lalu. Keunggulan Performance Prism, pengukuran kinerja yang lebih komprehensif karena melibatkan semua pemangku kepentingan. Bahkan perspektif pemerintah pun menjadi ukuran, yang di model lain tidak ada.
Mahasiswa Magister Teknik Industri Pascasarjana FTI UII, Irma Andrianti mengutarakan, dirinya melakukan penelitian terkait pengukuran kinerja menggunakan Performance Prism di sebuah perusahaan supplier dan general kontraktor, di Balikpapan, Kaltim. Hasilnya, sangat baik.
Bahkan Irma berani menyarankan, agar perusahaan tersebut tak hanya menggunakan model Performance Prism pada tingkat korporasi, tapi juga pada setiap bagian kerja yang ada hingga level terkecil. “Sistem pengukuran kinerja menggunakan model Performance Prism juga harus ditinjau secara periodik agar dapat disesuaikan dengan perkembangan terbaru,” tandas Irma. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan