Bapeten Permudah Perizinan Fasilitas Kedokteran Nuklir

Kedokteran Nuklir: Husein S Kartamihardja (pegang mic) dan Jazi Eko Istianto (dua kanan) menjelaskan seputar kedokteran nuklir di sela Rakornas Keselamatan Radiasi pada Fasilitas Kedokteran Nuklir, di Jogjakarta, Selasa (28/8).

Kedokteran Nuklir: Husein S Kartamihardja (pegang mic) dan Jazi Eko Istianto (dua kanan) menjelaskan seputar kedokteran nuklir di sela Rakornas Keselamatan Radiasi pada Fasilitas Kedokteran Nuklir, di Jogjakarta, Selasa (28/8).

JOGJA – Meningkatnya pengoperasian peralatan kedokteran nuklir di rumah sakit patut disyukuri. Artinya, akan ada peningkatan kuantitas maupun kualitas layanan kedokteran. Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) pun berniat mempermudah perizinan penggunaan fasilitas kedokteran nuklir, mengingat pentingnya peralatan tersebut untuk menyembuhkan penyakit, terutama kanker.

“Mengingat pentingnya penggunaan peralatan kedokteran nuklir, kami akan mempermudah perizinan. Bukan berarti kami akan menurunkan atau menyederhanakan syarat keselamatannya,” ungkap Kepala Bapeten, Prof Dr Ir Jazi Eko Istianto, di sela Rakornas Keselamatan Radiasi pada Fasilitas Kedokteran Nuklir, di Jogjakarta, Selasa (28/8).

Kedokteran nuklir merupakan cabang spesialis kedokteran yang menggunakan radiasi untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit. Meningkatnya jumlah rumah sakit yang mengoperasikan peralatan kedokteran nuklir dalam satu sisi perlu disyukuri, namun di sisi lain ada hal-hal yang menjadi perhatian khusus, terkait keselamatan bagi operator alat kedokteran nuklir atau pekerja radiasi, masyarakat terutama pasien, dan lingkungan hidup.

“Bapeten sebagai lembaga pemerintah yang diberi amanah untuk menjadi regulator bagi pemanfaatan radiasi atau tenaga nuklir di Indonesia, telah menerbitkan peraturan untuk menjamin keselamatan di fasilitas yang menggunakan kedokteran nuklir,” tutur Jazi seraya mengemukakan, saat ini ada 15 tempat pengguna peralatan kedokteran nuklir di Indonesia.

Hanya saja, imbuh Jazi, separo lebih atau sembilan tempat berada di Jakarta, sehingga pemerataannya masih sangat kurang. “Rakornas ini diselenggarakan berdasarkan temuan dan akan semakin meningkatnya pemanfaatan peralatan kedokteran nuklir. Sekaligus sosialisasi implementasi pelayanan perizinan pemanfaatan tenaga nuklir secara elektronik atau Online Single Submission,” katanya.

Peserta berasal dari perhimpunan kedokteran nuklir dan instansi pengguna kedokteran nuklir, importir zat radioaktif kedokteran nuklir, kalangan akademisi, dan instansi terkait. “Diharapkan dengan adanya rakornas ini dapat tercapai solusi dan kesepahaman yang saling menguntungkan. Komitmen Bapeten menjamin keselamatan radiasi bagi pekerja, masyarakat termasuk pasien, dan lingkungan yang ada di fasilitas kedokteran nuklir. Dukungan dari seluruh pihak sangat menentukan keberhasilan pengawasan Bapeten,” tandas Jazi.

Guru besar Unpad dari Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia, Prof Dr dr Husein S Kartamihardja SpKN MHKes mengemukakan, diagnosis maupun terapi menggunakan radiasi nuklir sebenarnya sangat penting terutama bagi penyembuhan penyakit kanker. “Sayangnya, seringkali masyarakat sudah phobia lebih dahulu manakala mendengar kata nuklir,” katanya.

Padahal, lanjut Husein, pemanfaatan radiasi nuklir pada penyakit kanker justru akan meminimalisir efek samping. “Pengobatan memanfaatkan radiasi nuklir justru hanya akan menyasar pada sel kanker pada pasien. Sel sehat yang lain tidak akan terkena, atau minim sekali jika terkena, sehingga hampir tidak ada efek samping bagi pasien seperti pengobatan konvensional selama ini. Di luar negeri, pengobatan menggunakan radiasi nuklir sudah lama dikembangkan,” jelasnya.

Sayangnya, hingga saat ini hanya ada 41 orang dokter spesialis kedokteran nuklir di Indonesia. Masih sangat kurang. Fasilitas kedokteran nuklir pun belum menyebar. Sembilan tempat ada di Jakarta. Selebihnya, ada di Bandung, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, Medan, Padang, Lampung, dan Banjarmasin. “Karena itulah, karena kedekatan jarak, sering pasien justru pergi ke Malaysia untuk berobat,” tutur Husein kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan