Batan Mulai Lirik Thorium

 IMG_20170105_141725
 Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
 Prof Dr Djarot Sulistyo Wisnubroto
JOGJA – Potensi Thorium di Indonesia cuup menjajikan. Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional) pun mulai meliriknya menjadi alternatif atau pengganti penggunaan Uranium sebagai bahan bakar nuklir. Telah dibangun fasilitas ekstraksi dalam skala ‘pilot plant’ di PSTA (Pusat Sains dan Teknologi Akselerator) Jogjakarta/Batan Jogjakarta, sebagai langkah awal kemungkinan pemanfaatan Thorium sebagai sumber bahan bakar nuklir alternatif.
Teknologi penggunaan Thorium hingga skala industri atau komersial memang masih harus melalui penelitian panjang, tapi potensi Thorium yang jauh lebih besar dari potensi Uranium di Indonesia, ‘menggoda’ Batan untuk mulai menjajaki pemanfaatan Thorium. Bahkan kemungkinan membangun PLTT (Pembangkit Listrik Tenaga Thorium) di masa depan.
“Thorium memang bisa kita katakan sebagai cikal-bakal energi listrik, tapi untuk pemanfaatan sampai ke sana masih sangat jauh. Tiongkok yang telah memulai lebih awal pun menyatakan baru akan memanfaatkan Thorium sebagai energi listrik pada 2035 mendatang. Kalaupun Indonesia menggunakannya juga, paling lima atau sepuluh tahun kemudian setelah Tiongkok,” jelas Kepala Batan Prof Dr Djarot Sulistyo Wisnubroto, di kantor PSTA Jogjakarta, Rabu (4/1).
Potensi Thorium di Indonesia sekitar 130.974 ton memang cukup menjanjikan bila dibandingkan potensi Uranium yang hanya 74.397 ton. Namun, Djarot mengakui, untuk memanfaatkannya hingga skala industri masih sangat jauh. India yang memiliki Thorium sekitar 800.000 ton pun saat ini masih dalam tahap ujicoba.
“Teknologi Thorium atau opsi Thorium sebagai alternatif memang masih tetap dipertimbangkan hingga saat ini, meski banyak pihak lebih menyukai penggunaan Uranium. Banyak pihak juga meyakini limbah Thorium lebh rendah, tapi itu pun masih memerlukan pengkajian lebih lanjut karena teknologi Thorium dianggap masih belum matang,” tandas Djarot.
Thorium, jelas Dr Susilo Widodo selaku Kepala PSTA, melekat pada bahan mineral Tanah Jarang. “Pengembangan penelitian Tanah Jarang perlu segera dimulai karena pengembangan unsur tersebut tak hanya bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar nuklir alternatif melalui Thorium, namun juga pengembangannya ke beberapa unsur berbeda dengan pemanfaatan yang berbeda pula,” paparnya.
Fasilitas ekstraksi atau pemurnian Tanah Jarang dalam skala ‘Pilot Plant’ saat ini, berarti lebih tinggi atau sebagai kelanjutan dari skala laboratrium tapi belum sampai ke skala industri atau komersial. “Memang keberadaan fasilitas itu saat ini belum sampai skala profit, tapi sangat strategis sehingga perlu segera dimulai,” tandas Susilo.
Bekerjasama dengan PT Timah, lanjut Djarot, saat ini Batan telah mulai mengembangkan eksplorasi Tanah Jarang di Muntok, Bangka, sebagai pengembangan Thorium ke arah skala komersial. Thorium memang terdapat dalam mineral monasit yang berasosiasi dengan endapan timah dan menjadi produk samping tambang timah. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan