BBM Dari Sampah Plastik, Mengapa Tidak?

BBM Plastik: Zahrul Mufrodi menjelaskan proses sampah plastik menjadi BBM di depan reaktor pirolisis hasil rancangannya, di laboratorium UAD Jogjakarta.

BBM Plastik: Zahrul Mufrodi menjelaskan proses sampah plastik menjadi BBM di depan reaktor pirolisis hasil rancangannya, di laboratorium UAD Jogjakarta.

JOGJA (jurnaljogja-com) – Masih ingat Banyu Biru. Air yang waktu itu diyakini bisa menjadi pengganti BBM (bahan bakar minyak), yang belakangan ketahuan hanya bohong-bohongan. Kali ini pakar kimia sebuah PTS (perguruan tinggi swasta) di Jogjakarta, melalui suatu proses kimiawi, mampu menyulap sampah plastik menjadi BBM. Belum diujicobakan ke kendaraan bermotor, memang. Namun, untuk diterapkan di satu mesin dalam skala laboratorium, penelitian dosen Teknik Kimia itu boleh dibilang berhasil.

“Hasil BBM plastik ini memiliki spesifikasi sifat fisis yang telah diuji dan setara dengan solar dan premium,” ungkap dosen Teknik Kimia UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Dr Zahrul Mufrodi MT, memaparkan hasil penelitiannya kepada wartawan, di laboratorium kampus setempat, Jalan Janturan Jogjakarta, Senin (20/11).

Selain di laboratorium, pemanfaatan sampah plastik menjadi BBM telah direalisasikan di Potorono dan Kweni, Bantul, DIJ. “Di kedua daerah itu ada bank sampah. Menggunakan peralatan yang lebih sederhana dibandingkan di laboratorium ini, sampah plastik di Potorono dan Kweni itu kemudian diubah menjadi BBM yang saat ini sudah dimanfaatkan untuk warung tenda pecel lele. Meski masih dalam kapasitas terbatas,” tutur Zahrul.

Jenis plastik yang memungkinkan diubah menjadi BBM, jelas Zahrul, jenis PP (polypropylene) yang banyak didapatkan pada komponen otomotif, tempat makanan dan minuman. Kemudian PS (polystyrene) yang biasa digunakan untuk kemasan, mainan, dan peralatan medis. Bisa juga HDPE (high density polyethylene) yang biasa kita temui sebagai wadah makanan, wadah sampo dan sabun, serta kantong sampah. Plastik lain, LDPE (low density polyethylene) yang biasa digunakan untuk tempat makanan dan minuman dengan kontur plastik yang lebih lembek.

Zahrul mengubah sampah plastik menjadi BBM menggunakan prinsip pirolisis. Sampah plastik dipanaskan pada suhu sekitar 500 derajat Celsius sehingga fasenya akan berubah menjadi gas dan kemudian akan terjadi proses perengkahan atau cracking. “Gas yang dihasilkan kemudian dikondensasikan untuk mendapatkan minyak plastik,” jelas ahli kimia yang pernah mengikuti program sandwich ke Tokyo Institute of Technology, Jepang itu.

Alat pirolisis yang dibuat dilengkapi dengan pengontrol suhu, pengukur tekanan dan kondensasi bertingkat sehingga diperoleh degradasi hasil yang berbeda. “Untuk alat yang ada di Potorono dan Kweni hanya memiliki satu jalur kondensasi. Sedangkan yang ada di laboratorium UAD ini saya buat dengan tiga jalur sehingga bisa diperoleh tiga jenis BBM sekaligus, solar, premium, dan minyak residunya,” papar Zahrul.

Hasil BBM dengan titik kondensasi yang lebih rendah memiliki spesifikasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan titik kondensasi yang lebih tinggi. “Penelitian ini masih berlanjut dengan pembuatan katalis berbahan dasar lokal untuk dicampurkan dalam reaktor pirolisis sehingga akan didapatkan hasil minyak plastik yang lebih baik, dengan suhu proses lebih rendah. Kami menargetkan kelak bisa menghasilkan avtur melalui sampah plastik ini,” tutur Zahrul kemudian.

Sesetiap kilogram sampah plastik akan bisa menghasilkan BBM separonya. Misalnya, 20 kilogram sampah plastik bisa menghasilkan 10 liter BBM. Jika rata-rata nilai jual sampah plastik Rp 1.500 per kilogram, maka untuk 20 kilogram dibutuhkan dana Rp 30.000. Sampah sebanyak itu bisa menghasilkan 10 liter BBM. Jika dihitung Rp 6.000 per liter BBM, maka penjualan hasil BBM itu bisa mencapai Rp 60.000. “Nilai ekonominya cukup menjanjikan,” tandas Zahrul. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan