Bed Terapi Multi Fungsi Untuk Terapi Fisik

bed terapi

Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja

JOGJA – Kebutuhan tenaga fisioterapis di Indonesia terus meningkat, sedangkan lulusan sekolah fisioterapis tidak semua dapat bekerja pada rumah sakit dan sebagian besar harus membuka klinik-klinik mandiri. Salah satu modal kerja untuk membuka klinik mandiri, yaitu bed terapi.

Bed terapi merupakan sebuah bidang datar yang digunakan untuk meletakkan pasien yang memerlukan penanganan terapi. Bentuk bed terapi berbeda-beda tergantung jenis terapi yang diterapkan kepada pasien, masing-masing bed terapi manual, bed terapi traksi, dan bed terapi tilting table.

“Untuk membuka sebuah klinik, minimal harus memiliki tiga jenis bed tersebut. Cukup mahal dan kurang efisien. Karena itu saya merancang sebuah bed terapi multi fungsi, dengan tiga jenis fungsi tersebut sehingga harganya bisa jauh lebih murah dan efisien,” tutur mahasiswa Konsentrasi Teknik Industri – Magister Teknik Industri, Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia, Farit Ardiyanto, di kampus setempat, Jumat (15/7).

Pada umumnya setiap jenis bed terapi berdiri sendiri dan dimensinya tidak sesuai dengan antopometri masyarakat Indonesia. “Untuk memenuhi keinginan konsumen terhadap bed terapi yang lebih efisien dan sesuai dengan antropometri masyarakat Indonesia, diperlukan bed terapi multi fungsi yang mampu menangani seluruh kebutuhan jenis terapi hanya dalam satu unit bed sehingga menghemat biaya dan tempat,” ujar Farit kemudian.

Harga bed terapi manual biasanya ada pada kisaran Rp 6 juta. Bed tilting, Rp 4 juta. Bed traksi, Rp 8 juta. Sehingga jika tiga jenis bed itu dijumlahkan, harganya bisa mencapai Rp 18 juta. Sedangkan bed terapi multi fungsi rancangan Farit hanya Rp 6 juta. Jadi, jatuhnya harga jauh lebih muranh dibandingkan harga tiga bed dengan masing-masing fungsi tersebut.

Kendati sudah diujicobakan, namun Farit masih akan terus menyempurnakan rancangan bed terapinya. “Agar pasien benar-benar aman saat penggunaan tiling table, sebaiknya posisi sabuk tidak berada di sisi luar bed namun akan lebih baik dibuatkan lubang pada setiap sisi alas bed sehingga pasien tidak mudah terguling. Pun, perlu dibuatkan rail khusus yang digunakan untuk mengatur kabel kontrol yang dipakai agar lebih rapi,” tandasnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan