Begini Semestinya Posisi Pendidikan dan Teknologi

Rektor UNY, Prof Dr Sutrisna Wibawa MPd (dua kanan) pada peringatan Dies Natalis Ke-55 UNY, di kampus setempat, Selasa (21/5).

Rektor UNY, Prof Dr Sutrisna Wibawa MPd (dua kanan) pada peringatan Dies Natalis Ke-55 UNY, di kampus setempat, Selasa (21/5).

JOGJA – Dunia pendidikan harus merespon kehadiran teknologi informasi dan komunikasi dalam lanskap Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0 dengan tangan terbuka. Namun, pendidikan tak seharusnya semata-mata bergantung pada temuan termutakhir itu.

“Pendidikan dan teknologi berbasis digital mesti diposisikan secara dialektis. Bukan saling bergantung, apalagi cenderung mengintervensi,” ujar Rektor UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), Prof Dr Sutrisna Wibawa MPd, pada puncak peringatan dies natalis ke-55 UNY, di kampus setempat, Selasa (21/5).

Begitulah seharusnya basis paradigma pendidikan, secara teoritis maupun praktis. “Tetap dinamis menerima perubahan tapi harus senantiasa mengakar kuat pada kepribadian bangsa Indonesia,” tegas Sutrisna di hadapan tamu undangan serta segenap dosen yang hadir.

Pendidikan yang bersifat ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat atau motivasi), tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), menurut Sutrisna, wajib dielaborasi dengan semangat Creativity, Critical thinking, Communication, dan Colaboration.

Rektor UGM, Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng, yang pada kesempatan itu menyampaikan pidato ilmiah mengemukakan, pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam pembangunan suatu bangsa.

“Karena itu inovasi-inovasi harus dilakukan dalam penyelenggaraan pendidikan di perguruan tinggi sehingga pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi memperoleh hasil optimal. Inovasi perguruan tinggi dalam pelaksanaan tridharma menghasilkan lulusan, produk-produk penelitian, dan pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang berkualitas serta meningkatkan daya saing bangsa,” tutur Panut.

Prioritas penelitian atau riset di perguruan tinggi harus ditetapkan berbasis pada kerangka penguatan riset-riset dasar atau fundamental. “Dengan riset-riset dasar yang kuat, Indonesia akan mampu secara tangguh melandasi visinya jauh ke depan,” ujar Panut.

Riset-riset eksploratif yang bersifat memetakan dan mengembangkan big data atas kekayaan alam dan budaya, tandas Panut, juga sangat penting untuk dikembangkan di perguruan tinggi di Indonesia, guna melindungi bangsa Indonesia di masa kini maupun di masa mendatang. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan