Bela Negara Bukan Wajib Militer

Bela Negara: Segenap mahasiswa peserta Jambore dan Olimpiade Nasional Bela Negara mengikuti seminar bela negara, dalam rangkaian Deklarasi Sinergi Kampus Bela Negara, di lobi rektorat kampus UPN Veteran Jogjakarta.

Bela Negara: Segenap mahasiswa peserta Jambore dan Olimpiade Nasional Bela Negara mengikuti seminar bela negara, dalam rangkaian Deklarasi Sinergi Kampus Bela Negara, di lobi rektorat kampus UPN Veteran Jogjakarta.

JOGJA – Upaya bela negara yang perlu dimiliki tiap individu sebagai bagian dari bangsa Indonesia, harus selalu dilakukan. Pengaplikasiannya pun dapat dilakukan di segala bidang sesuai kemampuan dan keahlian tiap individu.

Koordinator Bela Negara UPN Veteran Jogjakarta, Prof Dr Ir Danisworo mengemukakan hal itu usai pelaksanaan Deklarasi Sinergi Kampus Bela Negara, di gedung rektorat kampus setempat, awal Agustus ini, diikuti 24 perguruan tinggi lainnya se Indonesia. Disepakati, NKRI harga mati.

“Sekarang ini kita sepertinya selalu mendapat ancaman yang sifatnya memecah belah bangsa. Karena itu upaya meningkatkan kesadaran pada persatuan dan kesatuan perlu dilakukan. Untuk itulah kami mencoba menumbuh-kembangkan bela negara. Dan bela negara itu tidak sama dengan wajib militer,” ujarnya.

Bela negara, jelas Danisworo kemudian, mencakup cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, meyakini Pancasila sebagai ideologi dan falsafah yang paling cocok dengan Indonesia, rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, serta mempunyai kemampuan atau daya tahan dalam bidang yang digeluti.

“Kami mengharapkan semangat bela negara ini berkembang terus dan diaplikasikan oleh tiap-tiap kita dalam kehidupan sehari-hari sesuai bidang yang ditekuni karena bentuk dari bela negara itu sebenarnya sangat luas,” tutur Danisworo.

Sebagai mahasiswa, berusaha belajar dengan tekun agar bisa berprestasi itu juga bentuk bela negara. Yang menggeluti bidang pertanian, bisa berupaya mewujudkan kedaulatan pangan. “Intinya berjuang di bidang masing-masing, itu sudah termasuk bela negara,” tandas Danisworo.

Ia pun menambahkan, upaya meneguhkan bela negara di lingkungan kampus juga bertujuan untuk membuka wawasan sivitas akademika. “Wawasan itulah yang akan menjadi penangkal bagi ancaman nyata masa kini, seperti paham intoleransi, radikalisme, hingga narkoba. Dan deklarasi ini kami lakukan untuk lebih menggaungkan semangat bela negara. Selanjutnya bisa ditularkan ke yang lainnya agar bangsa kita tetap utuh,” kata Danisworo. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan