Belanda Tawarkan Studi Ke Mahasiswa UIN

Indy Hardono

Indy Hardono

JOGJA – Bukan negara Islam, memang. Tapi, Belanda menawarkan diri kepada mahasiswa UIN (Universitas Islam Negeri) ‘Sunan Kalijaga’ Jogjakarta untuk menempuh studi ke Negeri Kincir Angin itu. Pengembangan UIN ke depan memang memerlukan pendalaman ilmu, tak sebatas pada studi keislaman saja.

Selain mendapatkan ilmu akademis, pengalaman ke luar negeri merupakan kesempatan untuk mempelajari ide-ide baru yang akan membantu memperluas sudut pandang dan toleransi tinggi dalam menyikapi berbagai persoalan.

“Studi ke luar negeri berarti international mobility, yang merupakan suatu keniscayaan untuk masa sekarang, demi masa depan,” ujar Koordinator Tim Beasiswa Nuffic Neso Indonesia, Indy Hardono, di sela sosialisasi tentang berbagai beasiswa pendidikan tinggi ke Belanda, di kampus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Kamis (14/2).

Nuffic Neso Indonesia merupakan kantor perwakilan Nuffic, organisasi non-profit di Belanda yang ditunjuk resmi untuk menangani kerjasama internasional di bidang pendidikan tinggi, dan didanai oleh pemerintah Belanda.

“Kali ini kami membuka kesempatan kepada mahasiswa maupun dosen di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta untuk studi atau studi lanjut ke Belanda. Perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi Islam sekalipun, tak mungkin steril dari internasionalisasi pendidikan sekarang ini,” tandas Indy.

Indy pun sempat mengaku cukup surprise melihat antusiasme UIN Sunan Kalijaga menanggapi paparan yang ia sampaikan mengenai studi ke Belanda. “Bahkan setelah mendengar penjelasan dari UIN, saya sempat berpikir UIN Sunan Kalijaga ini bisa menjadi pusat unggulan untuk studi Islam secara internasional,” katanya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Sunan Kalijaga, Dr Waryono menyampaikan, kerjasama dengan Negeri Belanda sebenarnya sudah lama dilakukan. “Bahkan beberapa ahli atau dosen asal Belanda yang pernah mengajar di sini sempat meninggalkan karya tulis berupa buku yang cukup fenomenal menyangkut keislaman,” ungkapnya.

Jadi, tegas Waryono, belajar ilmu keislaman tidak harus ke negara Islam. “Belajar kepada outsider pun penting. Terlebih kami yang sedang menuju world class university in Islamic studies membutuhkan pengembangan keilmuan yang tak terbatas pada studi-studi keislaman semata,” ujarnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan