‘Belinda’ Ada Di Perpustakaan Kota

 IMG_20170131_145647
 Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
Rahman Agus Priana menyampaikan apreiasinya kepada Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Jogjakarta, Wahyu Hendratmoko SE MM, dan Kepala Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI) ‘Abiyoso’ Bandung, Drs Tony Basra Rustandy.
JOGJA – Memenuhi akses bahan pustaka bagi penyandang disabilitas, Perpustakaan Kota Jogjakarta memiliki layanan terbaru, Belinda (Blind Corner untuk Anda), khusus bagi penyandang disabilitas netra maupun low vision. Belinda sekaligus dimaksudkan untuk memberikan kesetaraan akses informasi perpustakaan.
“Kami mengharapkan, Belinda dapat memberikan dukungan kepada penyandang disabilitas netra dan low vision agar mampu mengembangkan dirinya menjadi insan cerdas, mandiri, dan produktif,” ujar Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Jogjakarta, Wahyu Hendratmoko SE MM, pekan kemarin.
Pojok khusus tersebut sengaja ditempatkan di bagian utama dari ruang baca lantai satu dekat dengan front office, guna memudahkan aksesibilitas bagi pemustaka penyandang disabilitas netra dan low vision.
Belinda juga disajikan menarik, lengkap dengan seperangkat komputer serta sofa untuk duduk nyaman. Komputer yang disediakan telah teraplikasi dengan program JAWS, sebuah aplikasi yang mampu mengubah media cetak menjadi media dengar (buku bicara).
Telah tersedia pula buku-buku berhuruf Braille terbitan BPBI (Balai Penerbitan Braille Indonesia) Bandung. Koleksi pustaka di pojok Belinda juga dilengkapi dengan Digital Talking Books, berupa DVD serta file hasil kerjasama dengan Mitranetra Jakarta. “Pemustaka netra dan low vision dapat mengakses talking books yang menyajikan novel fiksi karya penulis ternama,” jelas Wahyu.
Pustakawan pun siap mendampingi pemustaka dalam proses pencarian dan pengambilan buku dari rak dan file perpustakaan. Begitu pula dalam mengakses bahan bacaan elektronik. Layanan maksimal juga diberikan dengan memberikan layanan mobile ke SLB dan MTs Yaketunis serta SLB Hellen Keller Jogjakarta, dua kali dalam sebulan.
Seorang penyandang disabilitas netra, Rahman Agus Priana (30) mengatakan, persoalan para disabilitas netra selama ini pada minimnya literasi yang tersedia dalam huruf Braille. Sehingga mereka harus bergantung pada orang lain untuk dapat mengakses berbagai literasi.
“Saya mengapresiasi hadirnya inovasi Belinda. Ini akan membawa angin segar bagi penyandang disabilitas netra untuk semakin mandiri dalam mengakses berbagai literatur,” ujar Rahman yang juga lulusan S2 UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, itu seraya mengharapkan, Belinda ke depan akan semakin diperkaya dengan ragam literatur yang dibutuhkan penyandang disabilitas netra. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan