Belum Ada PT Pariwisata Terakreditasi ‘A’

 IMG_20170317_210411
 Dirjen Belmawa Kemenristek-dikti, Intan Ahmad, saat berbicara di hadapan peserta Rakernas Hildiktipari, di Jogjakarta, Jumat (17/3).
JOGJA – Masih ada PT (perguruan tinggi) Pariwisata yang tidak peduli terhadap status akreditasi mereka. Hingga saat ini belum satu pun PT Pariwisata yang mengantongi akreditasi institusi ‘A’. Bahkan yang akreditasi institusi ‘B’ hanya ada dua dari total 119 PT Pariwisata se Indonesia.
“Agak memprihatinkan, memang. Mereka (para pengelola PT Pariwisata – red.) mengaku enggan meningkatkan akreditasi karena syaratnya sulit,” tutur Ketua Umum Hildiktipari (Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia), Suhendroyono, di sela rakernas Hildiktipari, di Grand Quality HoteL, Jogjakarta, Jumat (17/3).
Untuk yang akreditasi institusi ‘B’ saja, lanjutnya, baru ada dua yakni Stipram (Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo), Jogjakarta dan STP (Sekolah Tinggi Pariwisata) Trisakti, Jakarta. “Apalagi untuk akreditasi ‘A’ yang syaratnya lebih sulit,” ujar Suhendroyono, yang juga Ketua Stipram Jogjakarta itu.
Meski persyaratannya sulit namun mestinya para pengelola PT Pariwisata itu berupaya keras karena akreditasi sangat penting terutama sebagai bukti pengakuan masyarakat maupun industri pariwisata. “Pengakuan kualitas itu penting sebagai modal untuk bisa makin berkembang, bahkan ketika harus menjalin kerjasama dengan pihak luar negeri,” katanya.
Akreditasi institusi juga akan mempengaruhi besaran hibah maupun fasilitas dari Kemenristek-dikti. Karenanya, Suhendroyono akan terus mendorong 104 PT Pariwisata yang menjadi anggota Hildiktipari untuk terus berupaya meningkatkan akreditasi institusi mereka.
Dirjen Belmawa (Pembelajaran dan Kemahasiswaan) Kemenristekdikti, Intan Ahmad mengatakan, tiap PT perlu memahami terkait apa yang harus dipenuhi jika ingin meraih akreditasi institusi ‘A’. Misalnya, harus memiliki banyak program studi yang sudah terakreditasi ‘A’.
“Kami sudah membuat banyak program guna membantu perguruan tinggi bisa meningkatkan kualitasnya hingga mampu memenuhi syarat kenaikan akreditasi. Bahkan untuk perguruan tinggi pariwisata, bantuan dari kementerian pariwisata sendiri cukup banyak. Jadi tinggal kemauan perguruan tinggi itu sendiri. Mau tidak, naik akreditasi,” ujar Intan.
Dalam upaya meraih akreditasi institusi yang baik, Intan menyarankan, masing-masing PT bisa belajar dari PT yang sudah berhasil. “Kendala seperti dosen berkualitas, proses pembelajaran yang baik, peningkatan fasilitas, hingga karya ilmiah hasil kampus, bisa diselesaikan dengan saling berbagi pengalaman,” tandasnya. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan