Belum Sekuku Jari Potensi Wakaf Terkumpul

(kiri-kanan) Atabik Lutfi, Muh Nuh, M Fuad Nasar

(kiri-kanan) Atabik Lutfi, Muh Nuh, M Fuad Nasar

JOGJA – Badan Wakaf Indonesia terus melakukan sosialisasi dan literasi tentang wakaf ke berbagai kampus di tanah air. Penyadaran terus diupayakan mengingat hingga saat ini masih sangat sedikit potensi wakaf di Indonesia yang sudah dikumpulkan atau dikelola badan tersebut.

“Baru terbilang nol koma nol sekian persen aset wakaf yang saat ini kami kelola, dari total potensi yang ada secara nasional,” ungkap Ketua Badan Pelaksana BWI (Badan Wakaf Indonesia) Prof Dr Muhammad Nuh DEA, di sela seminar sekaligus sosialisasi wakaf, di kampus UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), Rabu (27/3).

Berdasarkan jumlah penduduk muslim yang masih berada pada usia produktif, Nuh mengemukakan, potensi wakaf di Indonesia bisa mencapai Rp 22 triliun per tahun. Itupun jika hanya dihitung masing-masing penduduk memberikan wakafnya senilai Rp 1.000.

Karenanya, tanpa menyebut nilai atau nominal aset wakafnya, Nuh berani menyatakan, hingga saat ini masih sangat sedikit aset wakaf yang dikelola lembaganya. “Jadi, sebenarnya, potensi wakaf kita itu sangat dahsyat. Sangat luar biasa,” tegasnya.

Secara konvensional, aset wakaf itu berupa tanah. Tapi, saat ini wakaf tidak harus berupa tanah. “Dana segar, royalti dari satu hak cipta, saham, dan lain-lain, semua bisa diwakafkan. Karena itu saat ini BWI terus melakukan literasi ke kampus-kampus karena para mahasiswa yang ada saat ini, lima atau sepuluh tahun mendatang pasti sudah memiliki aset yang bisa diwakafkan,” ujar Nuh.

Begitu mudah bagi warga masyarakat untuk bisa mewakafkan asetnya. Cukup menggunakan aplikasi yang ada di gadget atau telepon genggam masing-masing, sudah bisa menyumbangkan aset wakafnya. “Melalui m-banking di satu bank syariah, misalnya, sudah ada menu untuk mewakafkan asetnya. Tinggal klik saja,” papar Nuh kemudian.

Mengenai pelaporan atau pertanggungjawaban terhadap aset wakaf yang dikelola, BWI menjamin semuanya akan disampaikan secara transparan dan akuntabel. “Selain memiliki divisi yang khusus mengurusi hal itu, menggandeng pula akuntan publik untuk mengaudit karena BWI mengelola aset publik,” tutur Nuh kemudian.

Direktur Pemberdayaan Zakat Infaq Sedekah dan Wakaf Kemenag RI, M Fuad Nasar MSi mengemukakan, sangat mendukung upaya BWI yang mendatangi sejumlah kampus di seluruh Indonesia untuk menggerakkan kepedulian warga terhadap wakaf.

“Terlebih pada 2020 pemerintah sedang fokus pada pembangunan manusia dan pertumbuhan yang berkualitas, yang membutuhkan kolaborasi antar-sektor untuk mencapainya, di perkotaan dan di perdesaan, terutama menyangkut potensi wakaf,” kata Fuad.

Salah seorang Komisioner BWI, Dr Atabik Lutfi menegaskan, sumbangan atau penyampaian wakaf tidak menjadi monopoli umat Islam semata. “Non Muslim pun boleh mewakafkan asetnya, tapi tentu tidak dihitung sebagai amalan yang berpahala jika itu dalam konteks agama. Wakaf yang mereka berikan hanya dihitung sebagai sumbangan sosial. Tapi, itu boleh saja. Silakan saja,” ujarnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan