Bencana Kemanusiaan Harus Diselesaikan Bersama

 IMG_20171005_201504
Rektor UAD, Kasiyarno, saat membuka konferensi internasional, di kampus setempat.
JOGJA – Lembaga Penangggulangan Bencana Muhammadiyah atau MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Centre) dan UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta bekerjasama dengan APBF (Asia Pasific Baptis Federation) menggelar konferensi internasional ‘Humanitarian Disaster Theology’, di kampus IV UAD, Minggu (24/9).
Kapasitas MDMC sebagai lembaga yang ditunjuk pemerintah untuk aksi kemanusiaan Rohingya telah memikat perhatian 100 orang pastor dan pendeta yang tergabung dalam APBF untuk datang ke UAD guna mempelajari manajemen penanggulangan bencana kemanusiaan, dalam perspektif teologi Kristen maupun Islam. Khususnya Fikih Bencana yang disusun Majelis Tarjih Muhammadiyah.
“Atas dasar itulah MDMC dan APBF menggandeng UAD yang memiliki Fakultas Agama Islam. Bahkan program studi S2 Pendidikan Agama Islam yang menaruh minat pada Kajian Pendidikan Tanggap Bencana,” ungkap Rektor UAD, Dr Kasiyarno MHum.
Konferensi menampilkan pembicara utama Dr Ross Clifford dari Morling College Australia, serta narasumber lain, Dr Maung Maung Yin (Director Peace Centre, Myanmar Institute of Theology), Dr Ustadzi Hamzah (Majelis Tarjih & Tajdid PP Muhammadiyah), Rahmawati Husein PhD (Wakil Ketua MDMC), dan Dr Yoyo MA (dosen S2 PAI-UAD).
Dengan peserta agamawan, budayawan, negarawan, termasuk kaum intelektual, mahasiswa, guru maupun dosen, konferensi bertujuan mempertemukan orang-orang yang peduli dengan bencana. “Khususnya bencana kemanusiaan,” tandas Kasiyarno.
Pertemuan yang dihadiri perwakilan dari negara-negara Asia Pasifik itu membahas serta saling tukar pengalaman dalam penanganan bencana. Peserta dari latar belakang yang berbeda, dengan berbagai macam perspektif, disatukan dalam acara tersebut.
“Kami mengharapkan setelah pertemuan ini ada kolaborasi partnership antar-agama dalam menangani masalah bencana. Kami ingin ada kerjasama untuk menangani secara khusus permasalahan bencana kemanusiaan, seperti yang terjadi di Rohingya,” tutur Kasiyarno kemudian. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan