Benda Langit Tak lagi Gelap Bagi Tunanetra

 IMG_20170606_151440
 Empat mahasiswi UAD dan dosen pembimbing (berdiri) bersama Khairul (duduk) menunjukkan ‘Buku Mentari’.
JOGJA – Bagi penderita low vision bahkan tunanetra, mereka hanya bisa membayangkan saja untuk mengenali benda langit. Tapi kini semua itu tak lagi gelap. Mereka bisa lebih mengenali alam semesta berkat ‘Buku Mentari’ karya empat orang mahasiswi UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta.
Buku Mentari, akronim dari ‘Mencerap Tata Surya dengan Gambar Tactile Buatan Sendiri’ merupakan karya Putri Maghfirotul Hasanah, Ratnawati, dan Ricka Tanzilla dari prodi Pendidikan Fisika, serta Titi Istinganah prodi Kesehatan Masyarakat. Mereka tergabung dalam tim PKM M (Program Kreativitas Mahasiswa – Pengabdian Masyarakat) UAD.
Berawal dari keprihatinan terhadap kesulitan siswa difabel khususnya tunanetra untuk mempelajari astronomi, para mahasiswi itu kemudian memiliki ide menyusun sebuah media pembelajaran yang pas mengingat belajar astronomi perlu menggunakan visual untuk melihat gambar planet, matahari, maupun benda langit lainnya.
“Untuk mengatasi keterbatasan kawan-kawan tunanetra, akhirnya kami membuatkan media yang bisa diraba berupa gambar timbul atau tactile dilengkapi informasi dalam bentuk tulisan Braille,” jelas Ricka dan kawan-kawan.
Uniknya, gambar timbul yang mereka pakai menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh dan murah seperti benang, pasir, dan lain-lain. “Meski dengan bahan-bahan sederhana, tapi kami membuatnya secara serius. Untuk bentuknya kami mengacu pada kesepakatan para ilmuwan astronomi dunia. Jadi, bukan rekaan kami sendiri,” ujar Ricka.
Yudhiakto Pramudya PhD selaku dosen pembimbing, membenarkan penjelasan para mahasiswi itu. “Tantangan terbesar ketika harus mengubah gambar benda langit dari visual dua dimensi jika dalam bentuk cetak, ke bentuk tiga dimensi dalam buku yang mereka susun itu,” katanya.
Berikutnya, tak menutup kemungkinan Buku Mentari ini akan dikembangkan lagi. “Dalam buku kali ini, para mahasiswi itu baru membahas soal Matahari, Komet, Bumi, dan Saturnus. Ke depan, mungkin bisa dibahas untuk benda langit lainnya,” tutur Yudhiakto.
Penderita low vision yang baru saja lulus SMA, Miftahul Khairul Ilmi, mengaku sangat terbantu dengan adanya Buku Mentari. “Kalau saya sih masih bisa melihat sedikit-sedikit, tapi bagi kawan-kawan tunanetra pasti akan sangat bermanfaat. Mereka kini bisa mempelajari astronomi secara lebih detail,” katanya. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan