Berpegangan pada Pancasila di Era Teknologi Informasi

Para penyandang disabilitas di DIJ mengikuti kegiatan sosialisasi UUD negara RI 1945 di kantor DPD RI DIJ beberapa waktu lalu.

Para penyandang disabilitas di DIJ mengikuti kegiatan sosialisasi UUD negara RI 1945 di kantor DPD RI DIJ beberapa waktu lalu.

JOGJA – Pemahaman tentang Pancasila dan 3 pilar bangsa yaitu, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),dan Bhineka Tunggal Ika sangat penting. Bisa menjadi pegangan di era teknologi informasi (TI) saat ini. Termasuk bagi penyandang disabilitas.
Pesan itu disampaika anggota DPD RI GKR Hemas dalam sosialisasi UUD Negara RI 1945 untuk masyarakat disabilitas di Kantor DPD RI DIJ beberapa waktu lalu. “Menurut hemat saya sangat penting bagi warga masyarakat DIJ, termasuk masyarakat penyandang Disabilitas, karena di era digital ini kita menghadapi tantangan yang tidak mudah,” katanya.

Tanpa pegangan yang kuat pada dasar negara, lanjut Hemas, eksistensi Indonesia sebagai bangsa yang plural tapi guyub rukun akan pudar. Dan berpotensi konflik. Problem kebangsaan yang dihadapi Indo nesia saat ini disinyalir akibat Pancasila dan ketiga pilar utama bangsa Indonesia tersebut tak lagi diamalkan. “Agar dapat menghadapi era teknologi informasi ini dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Pancasila,” ungkap senator dari dapil DIJ itu.

Dalam kesempatan itu, Hemas juga membahas beberapa persoalan yang dihadapi penyandang disabilitas. Seperti pendidikan. Isteri Gubernur DIJ Hamengku Buwono X itu menyebut untuk mencapai 20 persen APBN untuk pendidikan masih kesulitan. Itu juga belum banyak yang berpihak ke penyandang disabilitas. “Tapi difabel sendiri harus meningkatkan kemampuan, jangan hanya mengandalkan bantuan,” pesannya.

Sementara itu Triyono dengan Difa City tours dan travel, sudah memanfaatkan TI untuk membantu difabel. Triyono memberikan pelayanan angkutan ojek bagi difabel. Itu juga berdasarkan pengalamannya, sebagai difabel, yang dulunya kerap kesulitan mengakses transportasi umum. “Ini berdasarkan pengalaman saya. Alhamdulillah pada 2016 saya merintis adanya transportasi berbasis disabilitas,” katanya.
Triyono juga meminta agar para disabilitas tidak patah semangat dan terus mau untuk berubah. Dengan semangat juang seperti itu, maka keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bisa dicapai. “Dulu saya pernah ditolak masuk sekolah formal karena saya merasa bukan difabel. Saya setuju akses pendidikan bagi kalangan disabilitas harus diperhatikan,” tuturnya. (tom)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan