Besar, Potensi Ancaman Keamanan Nuklir

Kepala Bapeten Jazi Eko Istiyanto (dua kiri), Wadek I FST UIN Suka Agung Fatwanto (dua kanan), Kaprodi Teknik Infpormatika FST UIN Suka Bambang Irianto, menjelaskan kepada wartawan pentingnya cyber security di bidang nuklir.

Jazi Eko Istiyanto (dua kiri), Agung Fatwanto (dua kanan), Bambang Irianto, menjelaskan kepada wartawan pentingnya cyber security di bidang nuklir.

JOGJA (jurnaljogja.com) – Potensi ancaman keselamatan dan keamanan nuklir di bidang teknologi informasi, sangat besar. Terutama terkait keamanan sistem informasi dan keamanan jaringan sistem informasi. Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) pun melakukan antisipasi guna menangkal potensi gangguan tersebut. Sangat urgen. Terlambat menangkal bisa fatal. Menyangkut nyawa manusia.

“Untuk itulah kami ke kampus ini agar tercipta pemahaman di kalangan akademisi terutama menyangkut implementasi sistem keamanan nuklir berbasis cyber security,” ujar Kepala Bapeten, Prof Dr Ir Jazi Eko Istiyanto MSc IPU, usai memaparkan seputar teknologi nuklir dan pentingnya keamanan nuklir berbasis cyber security, di kampus UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, Senin (6/11) lalu.

Indonesia belum memiliki PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir), memang. Namun potensi ancaman di bidang teknologi informasi cukup besar, mengingat sudah banyak peralatan medis maupun alat-alat di laboratorium yang memanfaatkan tenaga nuklir, yang beredar di rumah sakit maupun perguruan tinggi. “Peralatan semacam itu harus mengantongi ijin dari Bapeten demi menjaga keselamatan dan keamanan masyarakat pengguna,” jelas Jazi.

Ibarat mengendarai sepedamotor, harus mengenakan helm. Tanpa mengenakan helm, orang tetap bisa mengendarai sepedamotor. Tapi akan fatal akibatnya jika terjadi kecelakaan. “Seperti itulah pentingnya ijin dari Bapeten. Untuk alat-alat medis seperti alat rontgen, maupun alat-alat lain yang memanfaatkan teknologi maupun tenaga nuklir dalam pengoperasiannya,” tandas Jazi.

Untuk mengurus ijin peralatan semacam itu sangat mudah karena sekarang sudah bisa dilakukan secara online. Namun penggunaan teknologi informasi itu otomatis membawa konsekuensinya pula. “Karena itulah kami terus berupaya memperkuat keamanannya, sebagai antisipasi munculnya ancaman maupun gangguan yang bisa saja dilakukan oleh siapa pun,” tutur Jazi kemudian.

Gangguan semacam itu memang belum pernah terjadi. Tapi potensinya sangat besar dan akibatnya bisa fatal. “Bayangkan, jika satu peralatan sudah harus dikalibrasi ulang tapi kemudian ada seseorang yang meretas dan mengubah masa berlaku ijin Bapeten. Tentu keamanan peralatannya menjadi tidak terjamin. Selanjutnya keselamatan masyarakat sebagai penggunanya pun terancam,” papar Jazi lebih jauh.

Wakil Dekan I Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga, Dr Agung Fatwanto, menyambut baik kehadiran Bapeten di kampusnya. “Kami menyadari aspek keamanan dan keselamatan, terutama yang berkaitan dengan teknologi nuklir, sangat penting. Perlu kehati-hatian karena kami pun memiliki poliklinik yang mengoperasikan peralatan medis dengan memanfaatkan teknologi nuklir,” katanya.

Ketua Program Studi Teknik Informatika FST UIN Sunan Kalijaga, Bambang Irianto, pun menyatakan siap bekerjasama dengan Bapeten. “Terutama kemungkinan bagi kami untuk menghasilkan aplikasi sistem keamanan, khususnya sistem keamanan nuklir. Kami pun menjadi semakin mengerti perlunya pengembangan cyber security.” (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan