Besar Potensi Perdagangan Berjangka Komoditi

Dewi Diananingrum

Dewi Diananingrum

JOGJA – Tak ada data pasti, memang. Namun diyakini potensi pasar perdagangan berjangka komoditi di Jogjakarta cukup besar. Tak heran jika kemudian sebuah perusahaan pialang berjangka nasional memperluas pasar dengan membuka kantor cabang di Jogjakarta. Hal itu pun tak lepas dari besarnya potensi industri pialang berjangka di tanah air.

“Tak mungkin kami membuka kantor di Jogjakarta jika potensinya tidak ada. Dari nasabah yang pernah saya tangani, banyak juga jumlahnya yang berasal dari Jogjakarta. Nilai transaksinya pun besar-besar,” tutur Kepala Cabang PT RFB (Rifan Financindo Berjangka) Jogjakarta, Dewi Diananingrum, saat workshop bersama wartawan, di Jogjakarta, Sabtu (11/9).

Itulah salah satu alasan mengapa kemudian RFB membuka kantor cabang di Jogjakarta pada awal Agustus ini. Kantor cabang setelah Jakarta, Semarang, Solo, Surabaya, Bandung, Medan, Palembang, dan Pekanbaru. Delapan produk mereka tawarkan, meliputi perdagangan emas berjangka, dua index, dan lima currency.

Untuk pengembangan kantor cabang Jogjakarta, RFB mengalokasikan total investasi Rp 10 miliar yang akan digunakan untuk infrastruktur kantor sebesar Rp 5 miliar, dan sisanya untuk modal kerja. Dewi menargetkan 100.000 lot transaksi dan 300 nasabah untuk tahun pertama. Sedangkan untuk kinerja perusahaan secara keseluruhan, RFB mematok penambahan 3.000 nasabah baru dan total volume transaksi 1 juta lot di akhir 2018.

Setiap kantor cabang harus memiliki kontribusi terhadap total bisnis perusahaan. “Untuk Jogjakarta kami harapkan dapat memberikan kontribusi sebesar sepuluh persen dari total bisnis secara umum dan turut meramaikan pasar perdagangan berjangka komoditi di kota Pelajar ini,” tandas Dewi.

Direktur PT KBI (Kliring Berjangka Indonesia) Agung Rihayanto menilai, performa RFB cukup baik. Salah satunya bisa dilihat dari aset penyertaan modal sebesar Rp 50 miliar. Cukup meyakinkan karena persyaratan minimal hanya sebesar Rp 25 miliar. Sedangkan untuk pembukaan kantor cabang harus menambah Rp 5 miliar per cabang.

Workshop dengan peserta para wartawan asal Jogjakarta itu juga menghadirkan Lukas dari PT Bursa Berjangka Jakarta, yang menyarankan bagi masyarakat yang ingin berinvestasi di pasar bursa sebaiknya menggunakan dana yang tidak dibutuhkan untuk konsumsi kebutuhan pokok.

“Berinvestasi di perdagangan berjangka sebaiknya dilakukan oleh yang sudah mapan. Dalam arti memiliki dana lebih, ketika kebutuhan pokok, kebutuhan utama sudah tercukupi. “Bukan berarti melarang orang untuk masuk ke pasar perdagangan itu tapi sebaiknya dipersiapkan secara matang karena risikonya juga besar. Meski, jika untung bisa besar pula,” tandas Lukas. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan