Big Data Mampu Tengarai Capres Pembual

Ismail Fahmi

Ismail Fahmi

JOGJA – Teknologi Big Data sangat menantang dan menjanjikan untuk melihat fenomena yang tak tampak kasat mata, dari balik informasi yang terunggah di media sosial. Penggunaan Big Data untuk isu Ekonomi, misalnya, bisa dimanfaatkan untuk membandingkan topik dan percakapan antara kubu Jokowi dan Prabowo.

“Melalui teknologi itu kita bisa membandingkan unggahan hoaks atau bukan. Lebih luas lagi, bisa pula menengarai siapa calon presiden yang benar-benar memiliki ide-ide dan program yang jelas, atau siapa yang hanya pandai membual, hanya jual tampang, misalnya,” tutur Dosen Magister Teknik Informasi FTI UII, Ismail Fahmi PhD, kepada wartawan, di kampus setempat, Sabtu (29/9).

Dalam kontestasi politik Indonesia sekarang ini, Big Data pada sisi lain dapat digunakan untuk membangun politik gagasan berbasis data. “Politik gagasan mengajak publik dan politisi agar membangun gagasan besar dan aplikabel untuk memecahkan masalah bangsa,” ujar Ismail kemudian.

Melalui teknologi Big Data itu pula bisa dilakukan analisis dari berbagai isu di media sosial. Misalnya saja permasalahan yang dikelompokkan berdasarkan 17 goals dalam SDGs (Sustainable Development Goals). Berdasarkan analisis tersebut bisa dikelompokkan, mana unggahan yang benar-benar baik dan mana yang kurang benar.

Karena itulah FTI UII menggagas Drone Emprit Academic. Sistem big data untuk akademisi, khususnya untuk menganalisis berbagai isu di media sosial yang dikelompokkan berdasarkan goal SDGs. “Melalui pengelompokan itu, akademisi bisa bertindak sebagai penengah, sebagai information arbitrage, sekaligus informasi bagi masyarakat mana unggahan yang baik, mana yang aneh-aneh, hingga mana saja unggahan yang betul-betul hoaks,” jelas Ismail.

Pengetahuan itu penting bagi masyarakat karena sekarang ini semakin banyak masyarakat yang bermain media sosial. Hasil survei per Januari 2018 menunjukkan, 49 persen atau 130 juta penduduk Indonesia merupakan pengguna internet. Dan sebesar 45 persen atau 120 juta penduduk memanfaatkan teknologi mobile.

“Dengan mengetahui informasi yang benar, serta siapa atau kelompok mana yang hanya memprovokasi, masyarakat diharapkan tidak akan bingung lagi. Sekaligus mengajarkan kepada masyarakat untuk tak lagi bermain-main dengan media sosial karena semua itu dapat dengan mudah diketahui melalui pemanfaatan teknologi big data,” papar Ismail lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan