Bisnis Halal Kurang Populer

 IMG_20170131_145816
 Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
Dr Hendri Saparini
JOGJA – Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun, bisnis halal di Indonesia dinilai masih kurang populer. Sehingga Indonesia diharapkan bisa lebih mengembangkan bisnis halal guna menunjang sektor ekonomi negeri.
Jepang saja sekarang sudah mengembangkannya pada sektor pariwisata dan industri makanan. Mereka bahkan bekerjasama dengan Malaysia untuk mendapatkan label halal bagi makanan produksi mereka. “Seharusnya kita sebagai akademisi juga harus sadar dan mulai mengembangkan bisnis halal. Terutama pada sektor makanan,” ujar Dr Hendri Saparini dari Komite Nasional Ekonomi dan Industri RI, dalam 2nd ICIEFI (International Conference on Islamic Economics and Financial Inclusion), di Pascasarjana UMY, awal pekan kemarin.
Selain Jepang, lanjut Hendri, Italia juga sudah menjalankan di bidang fashion. “Italia bahkan mengklaim sebagai negara penyedia fashion Muslim,” ucapnya.
Bisnis halal diyakini akan semakin berkembang di kawasan global. Bila Indonesia belum sadar dalam pengembangan bisnis halal, potensi Indonesia untuk menjadi produsen bisnis halal akan kalah dengan negara lain. Dan Indonesia hanya akan terus menjadi konsumen, padahal komunitas Muslim di Indonesia sangatlah besar.
Pada bagian lain, Hendri juga mengemukakan, pemberlakuan terhadap pajak impor di Indonesia juga masih sangat murah. India sudah memberlakukan pajak pada produk impor sebanyak 43 persen sebagai bentuk dari kebijakan proteksi negerinya.
“Bahkan Donald Trump juga akan memberlakukan kebijakan proteksi untuk produk-produk asing yang akan masuk ke Amerika. Harusnya Indonesia dapat menirunya. Tidak seperti sekarang yang harga produk impor malah sangat murah. Kita seharusnya mendorong produk lokal dan memajukan industri dalam negeri,” tandas Hendri. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan