BNN Ringkus Jaringan Internasional

JAKARTA (jurnaljogja) – Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap tiga jaringan sindikat internasional, yaitu Malaysia, Nigeria dan Taiwan. Mereka tengah berupaya mengedarkan sabu seberat 13,9 kg dari tiga kasus berbeda.
Kepala BNN Komjen Budi Waseso dalam siaran persnya kemarin menyebutkan,
tempat kejadian perkara (TKP) penangkapan jaringan tersebut di Berau, Bone,  Jogjakarta dan Tengerang. Dari tempat tersebut, petugas berhasil mengamankan 7 tersangka. Mereka adalah berinitial HEN (31), ASH (41), YAK (37), ISK (39), DS (36, perempuan), LN (36 warga Affsel), LWS (39 warga Taiwan).Jaringan Malaysia-Indonesia tersebut gagal mengedarkan 10,8 kg sabu. Kasus pertama ini berhasil diungkap setelah BNN menyelidiki intensif terhadap informasi peredaran narkoba yang menggunakan jalur Malaysia-Tawau-Perairan Sebatik via Tarakan Kalimantan Utara.

Dari tempat tersebut diperoleh informasi, bahwa para pelaku memecah barang di Pulau Bunyu, Tarakan menjadi tiga bagian, yaitu 2,8 kg untuk tujuan Samarinda, 8 kg tujuan Makassar dan 1 kg tujuan Palu.

Pada  4 April 2016, petugas mengejar seorang kurir yang membawa sabu dari Malaysia dengan tujuan Samarinda. Kurir tersebut menggunakan jalur Tarakan-Tanjung Selor-Samarinda.

Saat target melintasi kawasan Gunung Tabur, Berau Kalimantan Timur, petugas BNN berhasil mengamankan kurir yang diketahui berinisial HEN (31). Dari tangan HEN, petugas berhasil menyita sabu seberat 2.839 gram.

Tidak berselang lama, petugas juga mengamankan ASH (41), yang bertugas mengawasi situasi sekitar dan membuka jalan untuk HEN. Dalam waktu yang bersamaan, petugas juga melakukan pengembangan dengan mengejar kurir yang akan membawa sabu dari Malaysia ke Makassar.

Karena diduga kuat masih berada di Bone, petugas mengejar hingga ke daerah Desa Pattiro Sompe Keamatan Sibulue, Kabupaten Bone. Saat digerebek di sebuah rumah, target melarikan diri karena mencium kedatangan petugas dari jauh. Namun petugas berhasil menyita sabu seberat 8.000 gram.

”Jaringan ini dikendalikan oleh seorang napi yang kini mendekam di sebuah lapas di Tarakan, Kaltara,” tutur Komjen Budi Waseso.Pengungkapan kedua, yaitu sindikat Nigeria kendalikan peredaran sabu 688,7 gram. Pengungkapan kasus ini, lanjut Budi Waseso, berawal dari informasi masyarakat tentang adanya transaksi narkoba di sebuah hotel di Jogjakarta.

Setelah dipantau, seseorang yang keluar dari hotel dan dicurigai membawa narkoba itu bertolak ke Jakarta dengan menumpangi kereta api. Setibanya di Jakarta, kurir tersebut bergeser ke daerah Tangerang.

Akhirnya, BNN menggagalkan transaksi sabu seberat 688,7 gram di depan sebuah ruko di daerah Poris, Kecamatan Batu Ceper, Tangerang pada 14 April 2016. Di TKP, petugas meringkus YAK  kala menyerahkan sabu ke ISK.

Dari keterangan YAK diperoleh keterangan, ia beraksi di bawah kendali seorang perempuan bernama DS. Petugas mengamankan DS di sebuah apartemen di Karawaci, Tangerang pada hari yang sama. YAK juga mengaku dirinya mendapatkan sabu tersebut dari seorang perempuan WNA Afsel yaitu LN.

Selanjutnya petugas mengamankan LN di daerah Dagen DIJ. Jaringan ini dikendalikan oleh sindikat Nigeria yang diduga kuat masih berada di Jakarta. Petugas kini masih terus mengembangkan kasus untuk memburu pelaku lainnya.

Komjen Budi Waseso mengakui, pengungkapan kasus ini berhasil dilaksanakan dengan baik, berkat sinergi yang kuat antara petugas BNN Pusat dengan petugas di daerah.

Pengungkapan berikutnya adalah jaringan Taiwan-Indonesia. Petugas Bea dan Cukai Halim Perdana Kusuma mencurigai sebuah paket kiriman dari luar negeri yang dialamatkan ke seseorang di Jalan Marsekal Surya Dharma, Tangerang.

Dari hasil pemeriksaan, paket tersebut berisi UPS yang di dalamnya terdapat dua tea set berisi sabu seberat 2.460 gram. Kemudian petugas BNN melakukan pengembangan kasus ke alamat tersebut dan berhasil mengamankan LWS, seorang anggota sindikat internasional  Taiwan, di Jalan Marsekal Surya Dharma pada 30 Maret 2016.

Dalam aksinya tersebut, para tersangka dijerat dengan pasal 114 ayat (2) Junto Pasal 132 ayat (1), Pasal 112 ayat (2) Junto Pasal 132 ayat (1) UU No.35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup. (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan