BNPB Susun Peta Bencana Di DIY

(kiri-kanan) R Teduh Dirgahayu, Sarwidi, Oktanto Dedi Winarko, Izzati Muhimmah

(kiri-kanan) R Teduh Dirgahayu, Sarwidi, Oktanto Dedi Winarko, Izzati Muhimmah


 

JOGJA – Terjadinya luapan air, banjir, hingga longsoran tanah di Imogiri, Bantul dan Gunung Kidul, DIY ‘memaksa’ BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menyusun peta rawan bencana, terutama di dua wilayah itu.

“Kami akan menyusun peta tersebut dengan menggandeng akademisi dari UII hingga nantinya diketahui wilayah mana saja yang masuk zona hijau, kuning, atau merah,” ujar Pengarah BNPB, Prof Sarwidi MSCE PhD IPU, di kampus UII (Universitas Islam Indonesia), Jogjakarta, Kamis (21/3).

Keterlibatan akademisi asal UII, lanjut Sarwidi, sangat diperlukan mengingat mitigasi bencana sangat memerlukan sentuhan teknologi informatika. “Rekayasa teknologi tersebut terutama diperlukan agar penanganan bencana bisa dilakukan secara cepat dan akurat,” tegasnya.

Selain harus cepat dan akurat, penanganan bencana pun memerlukan transparansi dan akuntabilitas. “Transparansi menyangkut dana bantuan terutama yang berasal dari institusi, serta transparansi menyangkut kebutuhan dan suplai setelah terjadi bencana. Sedangkan akuntabilitas menyangkut pertanggungjawaban donasi yang masuk,” tutur Sarwidi kemudian.

Ketua Prodi Teknik Informatika, Program Sarjana, FTI UII, Dr R Teduh Dirgahayu ST MSc mengemukakan, banyak ruang yang bisa didukung teknologi informatika terkait dengan penanganan bencana. Meski, disiplin ilmu lain pun juga sangat diperlukan.

Pelibatan teknologi informatika, imbuh Teduh, tentu memerlukan personil yang memadai. Untuk itu, UII tengah mengembangkan wawasan mahasiswanya. Terutama tentang peran yang bisa diambil dalam penanganan bencana.

Teduh juga menyatakan, prodi yang dipimpinnya tengah membangun sistem, melakukan penelitian dari kasus-kasus bencana yang telah terjadi untuk kemudian diangkat ke dalam topik-topik penulisan. Dengan 16 dosen pengampu dan empat mata kuliah, UII meyakini mahasiswa mereka akan memiliki kemampuan yang cukup menyangkut penanganan bencana.

Oktanto Dedi Winarko dari Solusi 247 yang juga diundang ke kampus tersebut mengungkapkan, banyak peluang yang bisa dimasuki industri terkait dengan penanganan bencana. “Selain mendukung berbagai penelitian, kami pun telah memproduksi beberapa tools, seperti alat pengukur keretakan bangunan, radar cuaca portabel, hingga radar pendeteksi tsunami,” paparnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan