Bukan Zamannya Mahasiswa Idolakan Ijazah

 IMG_20170725_112320
Presiden Jokowi saat meletakkan batu pertama menandai dimulainya pembangunan gedung Museum Muhammadiyah, di Kampus IV UAD, Jogjakarta, Sabtu (22/7).
JOGJA – Presiden Jokowi (Joko Widodo) mengingatkan, perubahan global saat ini sangat cepat. Lanskap poltik maupun ekonomi dunia sudah berubah. Universitas harus siap menghadapi perubahan cepat tersebut. Harus mengantisipasi, misalnya dengan menyusun kurikulum yang fleksibel.
“Jangan sampai hanya mencetak mahasiswa yang hanya mengidolakan dan mengangkat-angkat ijazah. Lebih penting, bagaimana membangun karakter bangsa. Pun, membekali mereka dengan enterpreunership,” pesan Presiden Jokowi saat menyampaikan kuliah umum, di kampus UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Sabtu (22/7).
Bila perlu, lanjut Jokowi, universitas bisa mengkonversikan dalam SKS (satuan kredit semester) berkaitan dengan etos kerja, produktivitas, yang dilakukan mahasiswa di luar kelas. “Misal, seorang mahasiswa berhasil dalam satu usaha pertanian, bisa saja mahasiswa itu dinilai telah menempuh lima SKS. Maupun aktivitas lain di luar kelas,” contohnya.
Di tengah perkembangan teknologi informasi seperti sekarang ini, presiden pun mewanti-wanti, agar jangan sampai mahasiswa belajar dari medsos (media sosial). “Jika yang dipelajari yang baik-baik, barangkali tidak apa-apa. Jangan sampai kemudian kebarat-baratan, kejepang-jepangan, kekorea-koreaan, dan lain-lain,” tandas Jokowi.
Presiden pun mengingatkan, intervensi luar saat ini tak lagi berbentuk fisik, tapi juga dalam bentuk gambar. Universitas harus berada di barisan depan untuk mengantisipasi. “Tak terbayangkan jika semua mahasiswa yang saat ini memegang smartphone, kemudian tergiur,” kata Jokowi.
Mahasiswa harus menyadari semua perubahan itu. Universitas harus fokus pada penyiapan SDM. “Sekali lagi, ingat persaingan global sudah masuk dan perubahan yang lebih besar sudah di depan mata,” ujar Jokowi di hadapan mahasiswa dan segenap jajaran pimpinan UAD.
Tak hanya menyampaikan kuliah umum, Presiden Jokowi juga berkenan melakukan peletakan batu pertama menandai dimulainya pembangunan gedung Museum Muhammadiyah, yang lokasinya juga berada di kompleks Kampus IV UAD.
Sebelum Presiden Jokowi meletakkan batu pertama, Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr H Haedar Nashir mengemukakan, Muhammadiyah sesungguhnya juga merupakan museum berjalan. “Tapi gedung museum perlu dibangun, terutama bagi masyarakat yang hendak belajar maupun mengetahui Muhamadiyah serta Islam secara lebih mendalam,” katanya.
Selaku tuan rumah, Rektor UAD Dr Kasiyarno MHum menyampaikan, universitas yang dipimpinnya merupakan kampus inklusif. Ia pun mencontohkan, adanya beberapa orang mahasiswa asal Tiongkok yang menempuh perkuliahan di UAD. “Kami terus berkembang seiring dengan kepercayaan masyarakat,” tandasnya di hadapan presiden.
Didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi, Mensesneg Pratikno, Menristekdikti Moh Nasir, serta Mendikbud Muhadjir Effendi, Presiden Jokowi sebelumnya juga menghadiri Kongres Pancasila di UGM dan Rakorpimnas II PGRI di hotel Sahid Jogjakarta. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan