Bukti Digital Tak Akan Berarti Tanpa Kepercayaan

Yudi Prayudi (kiri) dan Eko Yunianto

Yudi Prayudi (kiri) dan Eko Yunianto

JOGJA – Preservasi bukti digital, bagian penting dalam tahapan digital forensik. Merupakan cara untuk memastikan otentikasi bukti digital sehingga keabsahannya dapat dipertanggungjawabkan di persidangan. Dokumentasi preservasi bukti digital tertuang dalam dokumen chain of custody.

Permasalahan yang terjadi pada proses preservasi bukti digital, penggunaan dokumen fisik chain of custody dan tidak kompetennya petugas, sehingga memungkinkan banyak kasus tidak terungkap karena lemahnya barang bukti terutama bukti digital.

Kesemuanya itu harus pula dilambari dengan kepercayaan, kesepakatan maupun ketaatan pada aturan yang telah disepakati sebelumnya. “Tanpa kepercayaan, teknologi secanggih apapun tak akan ada gunanya,” tutur Dosen Prodi Teknik Informatika Program Magister FTI UII, Dr (Cand) Yudi Prayudi SSi MKom, di kampus setempat, Selasa (28/5).

Digital Evidence Cabinet (DEC), imbuhnya, merupakan salah satu solusi manajemen bukti digital dengan memaksimalkan dokumen chain of custody. DEC menggunakan pendekatan penyimpanan bukti fisik lemari penyimpanan barang bukti yang bertingkat pada bukti digital.

“Pengembangan DEC dilakukan menggunakan tagging pada setiap level pada dokumen chain of custody. Di sisi lain blockchain merupakan teknologi yang menjamin integritas data yang disimpan,” jelas Yudi seraya mengungkapkan penelitian oleh mahasiswanya tentang merancang manajemen bukti digital dengan konsep Digital Evidence Cabinet berbasis blockchain yang disebut B-DEC (Blockchain Digital Evidence Cabinet).

Berdasarkan hasil pengujian, rancangan B-DEC yang dibangun dapat berjalan dan mempunyai kinerja yang baik sesuai harapan. “B-DEC dapat menjadi solusi untuk mengatasi integritas dokumen chain of custody dengan menyimpannya pada blockchain,” jelas mahasiswa Prodi Teknik Informatika Program Magister FTI UII, Eko Yunianto.

Berdasarkan rancangan model DEC pada chain of custody dengan menggunakan teknologi blockchain, Eko antara lain menyimpulkan, pendekatan DEC pada chain of custody berbasis blockchain dapat menjadi solusi atas manajemen bukti digital dengan memastikan otentikasi dokumen chain of custody dan kontrol akses pengguna pada bukti digital.

Penelitian ini, timpal Yudi, masih dalam tahapan prototipe dan mesti dikaji dan distandarisasi untuk dapat digunakan lebih lanjut. “Sedangkan sasaran pengguna B-DEC, aparat penegak hukum yang berwenang dari sisi penyimpanan barang bukti,” ujarnya sambil mengatakan, teknologi ini bisa dikembangkan misalnya untuk penerapan e-voting. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan