Cendol Kulit Taoge

IMG_20170626_183640
JOGJA – Limbah taoge berupa kulit kacang hijau atau angkup taoge dan pecahan-pecahan taoge yang diperoleh pada saat pengayakan atau ketika pemisahan untuk mendapatkan taoge yang dapat dikonsumsi biasanya dibuang begitu saja sehingga berpotensi mencemari lingkungan. Sebagian kecil orang memanfaatkan untuk campuran pakan itik.
Mencermati kondisi itu mahasiswa Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY, Muhammad Yuliantito Budiono dengan dosen pembimbing Dr Das Salirawati MSi pun tertarik melakukan penelitian ‘Optimalisasi Produk Limbah Kulit Taoge Menjadi Cettag (Cendol Kulit Taoge) Sebagai Upaya Mendukung Kedaulatan Pangan’.
Pemanfaatan kulit taoge sebagai Cettag dilakukan dengan mengganti sebagian tepung hangkuew dengan kulit taoge. “Substitusi kulit taoge pada cendol memberi perubahan kadar gizi dan tingkat kesukaan konsumen,” jelas Yuliantito.
Proses pengolahan kulit taoge menjadi produk Cettag dimulai dengan menyaring kulit taoge yang telah diblender, kemudian dicampur dengan tepung hangkuew, tepung beras, vanili, garam, dan air kemudian direbus. Setelah mendidih, dicetak dan ditampung dengan air es.
Cettag dengan kadar air terbaik, pada formula atau substitusi 15 persen dengan kadar air 87,50 persen. Sedangkan kadar protein dan karbohidrat terbaik, pada formula 60 persen dengan kadar protein 0,34 persen dan karbohidrat 9,22 persen. “Formula ini juga paling banyak disukai penikmat es dawet,” tandas Yuliantito. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan