Deflasi DIJ Bukan Karena Daya Beli Menurun

IMG_20170914_183313
JOGJA – Sesuai BRS (Berita Resmi Statistik) yang diterbitkan Badan Pusat Statistik DIY mencatatkan deflasi 0,45 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan nasional yang mengalami deflasi sebesar 0,07 persen (mtm).
Rendahnya deflasi pada Agustus 2017 dipengaruhi oleh deflasi kelompok administered prices dan volatile food, sementara peningkatan inflasi kelompok inti menahan laju deflasi lebih dalam. “Dengan deflasi sebesar itu inflasi DIY secara tahunan mencapai 3,34 persen (yoy) dengan laju inflasi tahun kalender sebesar 2,76 persen (ytd),” ujar Kepala Perwakilan BI (Bank Indonesia) DIY.Budi Hanoto.
Administered prices mengalami deflasi 2,20 persen (mtm), menurun tajam dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 1,39 persen (mtm). “Turunnya inflasi administered prices utamanya dipengaruhi oleh deflasi angkutan udara sebesar 26,64 persen (mtm), dibandingkan 18,52 persen (mtm) pada bulan sebelumnya,” tutur Budi.
Menurunnya tarif angkutan udara terjadi seiring kembali normalnya permintaan masyarakat paska libur lebaran dan sekolah. Hal serupa terjadi pada tarif angkutan antar-kota yang berangsur menurun paska lebaran.
Sebagaimana kelompok administered prices yang mengalami deflasi cukup dalam, volatile food turut mencatatkan deflasi 1,32 persen (mtm), atau lebih rendah dibandingkan bulan lalu yang mengalami inflasi 0,02 persen (mtm).
“Kembali normalnya konsumsi masyarakat paska lebaran, mendorong turunnya harga bahan makanan. Ada pun komoditas yang mengalami deflasi antara lain bawang merah, bawang putih, daging ayam ras, telur ayam ras dan cabai merah,” jelas Budi kemudian.
Berbeda dengan administered prices dan volatile food, core inflation meningkat 0,33 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan 0,23 persen (mtm) pada bulan sebelumnya. Ini didorong oleh peningkatan komponen biaya sekolah, SD, SMP, dan SMA, menyusul dimulainya tahun ajaran baru.
Peningkatan harga sepeda motor, emas perhiasan, dan upah pembantu rumahtangga turut mendorong naiknya inflasi inti pada Agustus 2017. “Bank Indonesia DIY meyakini, deflasi ini bukan mengindikasikan penurunan daya beli masyarakat. Lebih karena kecukupan pasokan dan berakhirnya dampak administered prices, yaitu tarif listrik dan tarif angkutan usai libur lebaran dan sekolah,” tandas Budi.
Kondisi itu turut dipengaruhi oleh meningkatnya inflasi inti dan membaiknya IKE (Indeks Keyakinan Ekonomi) Survei Konsumen Bank Indonesia yang menunjukkan optimisme masyarakat pada Agustus 2017 sebesar 126,33 dari 125,17 pada bulan sebelumnya.
Upaya pengendalian inflasi oleh TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) DIY akan terus dilakukan untuk mempertahankan kestabilan inflasi daerah, terutama dari aspek penguatan sistem informasi pangan, penguatan infrastruktur, serta efisiensi jalur tata-niaga pangan.
Dalam rangka mendorong efektivitas pengendalian inflasi daerah, TPID DIY telah menyelenggarakan Rakorda (Rapat Koordinasi Daerah) DIY pada 3 Agustus 2017 dengan tema ‘Pengendalian Inflasi Melalui Penguatan Kelembagaan Koperasi Pasar’.
Hasil Rakorda meliputi, mengintensifkan upaya memperpendek mata rantai perdagangan guna mengurangi inefisiensi tata-niaga perdagangan pangan, serta memperkuat kelembagaan di tingkat hilir para pedagang eceran di pasar dan di tingkat hulu atau gapoktan dalam rantai perdagangan, sebagai upaya meningkatkan daya tawar pedagang dan produsen.
Upaya penguatan kelembagaan koperasi pasar di sisi pedagang dilakukan melalui peningkatan manajemen atau pengelolaan koperasi, kesadaran terhadap pentingnya dan manfaat berkoperasi, penguasaan teknologi informasi, serta kerjasama antar-daerah.
“Melalui sinergi dan koordinasi erat antara pemerintah daerah dan Bank Indonesia diharapkan inflasi DIY tetap terjaga dalam rentang target inflasi sebesar 4±1 persen (yoy),” papar Budi lebih jauh. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan