Dehidrasi Tak Bisa Disepelekan

(kiri-kanan) Business Unit Beverages Nestlé Pure Life Tani Sulaeman, Dokter Spesialis Olahraga pada Rumah Sakit JIH (Jogja International Hospital) dr Muhammad Ikhwan Zein SpKO, dan moderator Maruli Ferdinand, dalam diskusi media 'Cegah Dehidrasi Saat Berolahraga', di Jogjakarta, Sabtu (17/11).

(kiri-kanan) Business Unit Beverages Nestlé Pure Life Tani Sulaeman, Dokter Spesialis Olahraga pada Rumah Sakit JIH (Jogja International Hospital) dr Muhammad Ikhwan Zein SpKO, dan moderator Maruli Ferdinand, dalam diskusi media ‘Cegah Dehidrasi Saat Berolahraga’, di Jogjakarta, Sabtu (17/11).

JOGJA – Perhelatan Borobudur Marathon 2018 telah berlangsung, para pelari sudah seharusnya mempersiapkan kondisi fisik agar dapat tampil optimal. Salah satu yang perlu diperhatikan, bagi para pelari, pentingnya mengonsumsi air putih yang cukup sebelum, saat, dan sesudah lari untuk mencegah dehidrasi akut. Hal itu kerap diremehkan karena terlalu berkonsentrasi saat berolahraga.

Spesialis Kedokteran Olahraga RS JIH (Jogja International Hospital) yang juga dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY, dr Muhammad Ikhwan Zein SpKO mengingatkan, para pelari semestinya mengonsumsi air putih yang cukup. “Dehidrasi akut, salah satunya, bisa terjadi akibat terlalu banyak mengeluarkan keringat akibat berolahraga,” katanya pada diskusi media Cegah Dehidrasi Saat Berolahraga, di Jogjakarta, Sabtu (17/11).

Rata-rata manusia mengeluarkan cairan tubuh 1.500-3.000 cc per hari. Kalau berolahraga, cairan tubuh yang keluar akan lebih banyak. Terlebih bila dilakukan di luar ruangan dengan cuaca panas. “Dehidrasi, keadaan di mana terjadi kehilangan cairan tubuh akibat berkeringat maupun beraktivitas pada cuaca yang panas,” jelas Ikhwan.

Dehidrasi terdengar sepele, tapi banyak yang tidak mengetahui akibat fatalnya. “Tanda-tanda dehidrasi akut antara lain merasa lemas, pusing, kebingungan, mual, dan ingin pingsan. Hilangnya cairan tubuh juga ditandai dengan urin yang berwarna gelap dan frekuensi buang air kecil yang jarang,” ujar Ikhwan.

Apabila gejala dehidrasi tersebut terus dibiarkan, tutur Ikhwan kemudian, akan memicu risiko cedera panas yang lebih serius. Heat stroke yang dapat menyebabkan komplikasi lanjutan berupa kerusakan ginjal bahkan kematian.

Karena gejala umum cedera panas sangat bervariasi, mulai dari lemas, mulut terasa kering, pusing, mual, kejang hingga pingsan, pelari harus tetap waspada dan menjaga asupan cairan sebaik mungkin. “Rasa haus merupakan indikator yang paling buruk. Kalau anda sudah haus berarti anda sudah dehidrasi,” tandas Ikhwan.

Ia juga mengingatkan, kita sebaiknya memilih air minum yang sudah terjamin kualitasnya, terutama yang sudah mengalami proses sedemikian rupa. Bukan sekadar air matang yang direbus. “Ciri-ciri umum air mineral yang layak dikonsumsi, terbebas dari rasa, warna, serta bau,” jelas Ikhwan.

Konsumen juga harus cerdas memilih air kemasan. Harus bisa memastikan, air mineral dalam kemasan telah melalui serangkaian tahapan proses sehingga memenuhi parameter standar kualitas air mineral di Indonesia, serta internasional. “Artinya, air mineral tersebut bisa dipastikan tidak mengandung partikel berbahaya dan terjamin kemurniannya,” papar Ikhwan.

Head of Business Unit Beverages Nestlé Pure Life, Tani Sulaeman mengatakan, sebagai air mineral kemasan resmi Borobudur Marathon, Nestlé Pure Life telah menempatkan 24 water station sepanjang 42 kilometer. “Jika pelari sudah merasa lelah dan kehausan, serta mengalami gejala-gejala dehidrasi, kami sarankan untuk tidak mengambil risiko dan segera memanfaatkan air minum yang telah tersedia,” katanya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan