Deradikalisasi Perlu Ditinjau Ulang

Muhammadiyah: H Haedar Nashir (tengah) dan Yunahar Ilyas (dua kanan) menyampaikan pernyataan sikap terkait teror bom Surabaya, di kantor PP Muhammadiyah, Jl Cik Di Tiro Jogjakarta, Senin (14/5).

Muhammadiyah: H Haedar Nashir (tengah) dan Yunahar Ilyas (dua kanan) menyampaikan pernyataan sikap terkait teror bom Surabaya, di kantor PP Muhammadiyah, Jl Cik Di Tiro Jogjakarta, Senin (14/5).

JOGJA – Muhammadiyah mengutuk keras aksi terorisme di Surabaya dan Sidoarjo diiringi duka cita serta bersimpati kepada korban yang tidak bersalah akibat perbuatan biadab tersebut. Program deradikalisasi perlu ditinjau ulang karena tak menyelesaikan masalah. Justru pemecahan ekstrim itu dibalas dengan aksi ekstrim pula.

“Muhammadiyah secara tegas mengutuk keras segala bentuk teroris, terorisme, dan anarkisme. Perbuatan itu sungguh biadab, dhalim, sehingga tak ada zona toleransi bagi terorisme. Tindakan ekstrim radikal hanya akan memunculkan konflik keras pula,” ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr H Haedar Nashir MSi, di kantor PP Muhammadiyah, Jalan Cik Di Tiro Jogjakarta, Senin (14/5).

Ormas keagamaan itu juga meminta kepada yang berwenang untuk mengusut tuntas tindakan pengecut peledakan bom di Surabaya. “Barangkali ada aktor di balik tindakan tersebut. Tapi semuanya harus dilakukan secara obyektif. Harus dilambari data seakurat mungkin, baru kemudian diumumkan ke publik. Kami percaya terorisme bisa diberantas,” tutur Haedar kemudian.

Pelibatan anak-anak dalam terorisme, menurut Haedar, kemungkinan keluarga itu menerima indoktrinasi yang salah. “Kendati begitu, program deradikalisasi perlu ditinjau ulang. Terbukti penanganan ekstrim hanya memunculkan balasan yang ekstrim pula. Persoalan pun menjadi tidak selesai. Atau, bisa saja selesai tapi tak sampai ke akarnya,” tandasnya didampingi beberapa Ketua PP Muhammadiyah yang lain.

Haedar pun menawarkan metoda ‘pagar betis’ guna menangkal radikalisme. “Salah satu kesalahan dalam radikalisme adalah keliru cara pahamkan konsep jihad. Karenanya diperlukan pendekatan moderasi sehingga umat tak mudah diindoktrinasi,” paparnya sembari menyinggung undang-undang tentang terorisme yang lebih baik komprehensif dan kuat ketimbang kemudian ribut soal perpresnya.

Teror bom di tiga gereja, timpal Yunahar Ilyas, jangan memunculkan pandangan mewakili umat beragama yang berbeda. “Sekaligus diharapkan agar dengan peristiwa tersebut tidak mengganggu hubungan antar-umat beragama yang selama ini telah berjalan baik dan harmonis,” kata salah seorang Ketua PP Muhammadiyah itu membacakan pernyataan sikap PP Muhammadiyah.

Tindakan teror, kekerasan, dan anarki lebih-lebih yang memakan korban jiwa dan menciptakan ketakutan kolektif atas nama apapun, dilakukan oleh siapapun, dan bertujuan apapun merupakan perbuatan dhalim dan pengrusakan di muka bumi yang tak dibenarkan oleh agama, hukum, maupun moralitas publik. “Kepada kepolisian dan pemerintah agar mengusut kasus tragis tersebut secara tuntas, objektif, dan transparan disertai langkah pemecahan ke depan yang semakin komprehensif antara pencegahan dan penindakan secara seksama agar tidak berulang kembali,” tegas Yunahar.

Kepada semua pihak untuk tetap tenang dan jernih, serta tidak mengembangkan berbagai asumsi negatif yang memberi ruang pada saling curiga dan sentimen sosial yang bermuara pada terganggunya kehidupan berbangsa dan bernegara. “Jadikan bulan Ramadhan sebagai wahana perenungan rohani dan introspeksi diri bagi seluruh elit dan warga atas segala sikap-tindak yang selama ini dilakukan secara individual maupun kolektif sebagai bangsa,” ujar Yunahar kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan